Saat ini, bahan baku biodiesel dan renewable diesel Amerika Serikat sebagian besar berasal dari minyak kedelai (44%), minyak daur ulang dan lemak (33%), minyak jagung (15%), serta minyak kanola (5%).

Dengan penerapan kebijakan baru berupa kredit pajak 45Z kini menggunakan jejak karbon sebagai tolok ukur, yang menempatkan Used Cooking Oil (UCO) pada posisi teratas dan minyak sawit Indonesia dengan nilai karbon tertinggi (4 Kg CO2 per kilogram).

Mestinya, kebutuhan biodiesel yang tinggi namun kurang didukung ketersediaan bahan baku di Amerika Serikat ini dapat menjadi peluang bagi negara penghasil minyak sawit dan biodiesel untuk menggenjot ekspor ke negeri “Paman Sam” tersebut.

Namun, seperti disebut tadi, sikap proteksionisme Trump diperkirakan akan menghalangi peluang itu. Lihat saja pada salah satu butir janji kampanyenya, yang dipastikan akan diterapkannya. Yaitu, akan menaikkan tarif impor terhadap semua barang dari luar.   

Trump juga diyakini akan menerapkan janji kampanye lainnya di sektor energi. Trump akan mendorong sub-sektor migas dan batu bara dengan meringankan pajak.

Ia juga akan menaikkan intensitas pengeboran minyak di sejumlah wilayah publik.

Ada kesan Trump akan banyak mengandalkan bahan bakar fosil, termasuk untuk transportasi, jika kebutuhan biodiesel mereka tak terpenuhi secara mandiri.

Namun ada janji kampanye lainnya yang dinilai memberi harapan sebagai peluang mendorong ekspor minyak sawit Indonesia ke pasar global. Yaitu, Trump akan berupaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina dan perang di Libanon.

Nah, peluang dari sisi ini yang ditangkap Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono. Ia menilai, jika perang berakhir, maka kondisi itu akan sangat mempengaruhi ekonomi global, termasuk meningkatkan ekonomi banyak negara.

“Itu akan mempengaruhi ekspor kita,” ujar Eddy Martono di sela-sela acara IPOC 2024. Ia menjelaskan, jika perang berakhir, ekspor CPO Indonesia berpotensi meningkat, mengingat tidak ada lagi gangguan rantai pasokan global.