Kandungan tersebut menjadikannya bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata, meningkatkan imunitas, hingga melindungi tubuh dari kerusakan sel akibat radikal bebas.
“Kalau minyak ikan unggul di omega-3, maka minyak sawit merah unggul di kandungan vitamin dan antioksidan. Inilah nilai tambah yang bisa kita tonjolkan,” jelas Darmono.
Dengan gizi yang lebih beragam, minyak sawit merah berpotensi diposisikan sebagai suplemen kesehatan premium yang dapat bersaing dengan produk global.
Selain ditujukan untuk pasar domestik, rencana produksi softgel minyak sawit merah juga membidik pasar ekspor. Amerika Serikat disebut Darmono sebagai salah satu tujuan potensial, mengingat tingginya permintaan terhadap produk kesehatan berbasis bahan alami.
Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dalam hal teknologi pengolahan minyak sawit merah. Seluruh proses produksi dilakukan dengan standar higienis menggunakan peralatan berbahan stainless steel, berbeda dengan di beberapa negara produsen lain, seperti Afrika Barat, yang masih mengandalkan metode tradisional.
“Dengan teknologi modern, Indonesia tidak hanya bisa bersaing, tapi juga bisa unggul dalam menembus pasar global,” tegas Darmono.
Keterlibatan Kimia Farma sebagai pemain besar di industri farmasi menjadi faktor kunci. Perusahaan ini memiliki kapasitas produksi besar dan jaringan distribusi luas, sehingga produk softgel minyak sawit merah bisa langsung menjangkau pasar nasional maupun internasional.
Bagi MAKSI, langkah ini bukan hanya sekadar inovasi produk, tetapi juga bentuk nyata bahwa sawit bisa memberikan nilai tambah lebih dari sekadar minyak goreng dan biodiesel. Produk turunan bernilai tinggi inilah yang akan memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia.
Minyak Sawit Merah Siap Hadir dalam Softgel, Lebih Bernutrisi dari Minyak Ikan
Diskusi pembaca untuk berita ini