Jakarta, elaeis.co – Presiden Prabowo Subianto melakukan lawatan strategis ke Amerika Serikat (AS) untuk memperkuat posisi komoditas unggulan Indonesia dalam perundingan ekonomi internasional.
Misi dagang ini difokuskan pada penguatan akses pasar untuk minyak kelapa sawit (CPO), kopi, dan kakao, yang dinilai memiliki potensi nilai tambah besar bagi perekonomian nasional.
Dalam kerangka Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang tengah dinegosiasikan dengan pemerintahan Donald Trump, Amerika Serikat sepakat menurunkan tarif resiprokal produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen.
Khusus untuk CPO, kopi, dan kakao, diberikan pengecualian tarif yang diproyeksikan meningkatkan daya saing ekspor Indonesia secara signifikan di pasar AS.
“Memastikan posisi yang diambil Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi dengan siapapun, khususnya dalam waktu dekat dengan AS, adalah yang terbaik dan paling menguntungkan untuk Indonesia,” ujar Teddy Indra Wijaya dalam keterangan resmi, Selasa (17/2).
Sebagai langkah timbal balik, Indonesia membebaskan tarif bea masuk bagi sebagian besar produk asal AS. Langkah ini dinilai strategis karena Amerika Serikat menjadi pasar utama ekspor kopi Indonesia. Data ekspor 2024 menunjukkan volume ekspor kopi mencapai 44,3 ribu ton senilai USD307,4 juta, melampaui gabungan nilai ekspor ke India, Malaysia, Jepang, dan Singapura.
Sektor kakao juga menjadi sorotan. Amerika Serikat menempati posisi tujuan ekspor kedua terbesar setelah India, dengan volume ekspor mencapai 43,40 ribu ton senilai USD173,92 juta.
Kementerian Pertanian memperkirakan produksi kakao nasional naik menjadi 635 ribu ton pada 2026, didukung oleh perluasan lahan perkebunan rakyat hingga 1,38 juta hektare.
Menteri Amran Sulaiman menegaskan pentingnya penguatan sektor hulu melalui peremajaan kebun dan penggunaan benih unggul.
Menurutnya, hilirisasi juga harus berjalan seiring agar nilai tambah dapat dirasakan langsung oleh petani.
“Pekebun adalah kunci. Hampir seluruh kebun kakao kita dikelola rakyat. Peningkatan produktivitas melalui peremajaan, benih unggul, dan pendampingan intensif harus menjadi prioritas,” jelasnya.
Sementara itu, CPO tetap menjadi penopang utama neraca perdagangan nasional. Volume ekspor ke AS mencapai 1,6 juta ton pada 2024 dengan nilai USD1,557,6 juta.
Amerika Serikat konsisten menempati lima besar negara tujuan ekspor sawit Indonesia sepanjang periode 2020–2024, memperkuat posisi strategis komoditas ini di pasar global.
Penandatanganan kesepakatan dagang direncanakan berlangsung pada Kamis (19/2) di Washington DC. Pemerintah optimistis ART akan menurunkan hambatan tarif sekaligus mendorong diversifikasi produk olahan, sehingga manfaat ekonomi dapat langsung dirasakan oleh para produsen dan petani lokal.
Dengan fokus pada CPO, kopi, dan kakao, misi dagang ini diharapkan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi nasional, memperluas pangsa pasar ekspor, serta meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah global.
Misi Dagang Prabowo ke AS CPO, Kopi, Kakao Jadi Primadona
Diskusi pembaca untuk berita ini