Karena itu, ia menegaskan pentingnya penerapan good housekeeping, pemantauan mutu penyimpanan, serta teknik pencampuran dan sampling yang akurat.

“Kadang bahan bakar saat dikirim dinyatakan sesuai standar, tapi ketika sampai, kualitasnya sudah berbeda. Di sinilah pentingnya menjaga rantai distribusi tetap bersih dan tertutup dari kontaminasi,” ujarnya.

Selain itu, material tangki, selang, dan komponen kendaraan juga harus kompatibel dengan biodiesel. Beberapa bahan seperti karet atau logam kuningan tertentu bisa bereaksi negatif, mengembang, atau terkikis jika terus bersentuhan dengan biodiesel.

Soni menegaskan, Indonesia saat ini merupakan negara dengan kadar campuran biodiesel tertinggi di dunia. Penerapan B40 sudah menjadi bukti bahwa Indonesia mampu melangkah lebih jauh dibanding banyak negara lain.

“Negara lain belajar dari kita. Kalau Arab punya minyak, kita punya energi terbarukan dari sawit. Potensi kita besar sekali,” katanya.

Meski begitu, ia mengingatkan agar ambisi menuju B50 dan bahkan B100 tidak mengabaikan aspek riset, pengujian, dan kesiapan industri. “Setiap kenaikan campuran butuh riset baru. Jangan sampai niat baik justru menimbulkan masalah teknis di lapangan,” tutupnya.

Langkah menuju B50 bukan sekadar soal mencampur bahan bakar, tapi tentang menjaga keseimbangan antara teknologi, lingkungan, dan ketahanan energi nasional. Indonesia sudah di jalur yang benar namun, sebagaimana disampaikan BRIN, kehati-hatian tetap kunci agar revolusi energi hijau ini benar-benar berjalan mulus tanpa risiko serius di masa depan.