Jakarta, Elaeis.co - Daya beli petani di Kalimantan Timur (kaltim) terus menunjukkan penguatan. Pada Agustus 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) naik 1,14 persen dari bulan sebelumnya ke level 120,53 persen.

Namun sayang, hanya subsektor tanaman perkebunan rakyat atau petani kelapa sawit yang mampu membukukan kenaikan sebesar 3,75 persen. Sementara itu, empat sektor lain mengalami penurunan.

Yakni subsektor tanaman pangan (-0,29 persen), hortikultura (-2,68 persen), peternakan (-2,29 persen), dan perikanan (-0,69 persen).

Kepala BPS Kaltim Anggoro Dwitjahyono mengatakan, NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

“Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di enam kabupaten di Kaltim, NTP Kaltim pada Agustus 2021 sebesar 120,53 yang berarti petani mengalami surplus atau peningkatan daya beli karena harga yang mereka terima mengalami kenaikan yang lebih cepat dari pada harga yang mereka bayar,” katanya, dikutip Prokal.co.

NTP Agustus 2021 secara umum mengalami peningkatan 9,26 persen terhadap bulan yang sama pada tahun lalu (Agustus 2020). Sedangkan secara bulanan, NTP pada Agustus 2021 naik 1,14 persen dari bulan sebelumnya.

“Hanya ada satu NTP yang mengalami peningkatan jika dilihat dari subsektornya. Yaitu, subsektor tanaman perkebunan rakyat (3,75 persen),” jelasnya.

Ini menandakan kemampuan petani perkebunan yang didominasi kelapa sawit sedang menikmati peningkatan harga jual. Sehingga NTP-nya mengalami peningkatan.

Terpisah, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, sektor kelapa sawit memang menjadi salah satu sektor yang bisa bertahan di tengah pandemi. Di tingkat petani terjadi peningkatan dari jumlah panen hingga harga tandan buah segar (TBS). Bahkan, saat ini harga TBS mencapai Rp 2.248 per kilogram.

“Dengan harga TBS yang tinggi menandakan petani lebih sejahtera saat ini. Hal ini yang membuat nilai tukar petani perkebunan jadi lebih tinggi,” tuturnya.