Pekanbaru, elaeis.co - Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning Riau dan Apkasindo Riau sepakat untuk bekerjasama. Langkah ini dinilai memberikan manfaat kepada masing-masing pihak.
Pengamat Kebijakan Publik Prodi Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning, M Rawa El Amady mengatakan bagi ilmu lingkungan kerjasama ini sangat memberi manfaat. Misalnya secara administrasi mendukung prodi untuk sertifikasi.
"Dalam kerja sama ini prodi ilmu lingkungan juga dapat memanfaatkan peluang riset untuk mendukung Apkasindo," ujarnya kepada elaeis.co,. Rabu (12/7).
Sementara bagi APKASINDO Riau, kata Rawa, prodi ilmu lingkungan dapat menjadi "think thank" termasuk juga bagi kelapa sawit itu sendiri.
Sebagai pengingat, kerjasama ini ditandai dengan penandatanganan MoU di gedung Pascasarjana Unilak, Senin (10/07) kemarin.
Jalinan kerja sama itu dilakukan langsung oleh Dekan Sekolah Pascasarjana Unilak Dr Adolf Bastian MPd, Wakil Dekan I Dr Anto Arianto.M.Si, Wakil Dekan II Dr Nurliana Nasution, Kaprodi, Kepala Urusan Internasional dan Kerjasama Unilak Dr Nurfaisal M.Pd, dan disaksikan sejumlah dosen lainnya. Sementara dari APKASINDO hadir Dr Gulat Manurung, dan sejumlah pengurus.
Dr Adolf mengatakan saat ini Pascasarjana Unilak terus bekembang dan semakin maju. Pascasarjana Unilak memiliki empat Program Studi (Prodi) ada Magister Manajemen, Magister Ilmu Hukum, Magister Ilmu Lingkungan dan Magister Pedagogi.
"Tentunya kami berharap dengan kehadirian dan kerjasama APKASINDO ke Pascasarjana Unilak selain untuk memperkuat hubungan dunia pendidikan dengan asosiasi sawit, kami juga mengajak dan mendorong rekan rekan APKASINDO, petani sawit dan keluarganya untuk dapat kuliah di prodi yang ada di sini," paparnya.
Sementara itu Dr Anto Arianto, M.Si menyebutkan kerjasama ini berkaitan dalam Tri Dharma Peguruan Tinggi, Pendidikan, Pengajaran, Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Khususnya di Prodi Ilmu Lingkungan.
"Jadi intinya bagaimana Prodi Ilmu Lingkungan ini mendukung sumber daya ekonomi sawit di Riau, melalui kegaitan Tri Dharma Peruguran Tinggi, ke dua berkaitan potensi untuk mendapatkan pendanaan beasiswa bagi anak-anak, keluarga petani sawit untuk bisa melanjutkan S2 di ilmu lingkungan Unilak ini dilakukan untuk meningkatkan pendidikan petani sawit. Dan yang ketiga riset bersama antara dosen Unilak dan APAKSINDO. Kerjasama ini juga bisa dengan prodi prodi lain di pascasarjana, bisa ilmu hukum, dan manajemen. " ucap Dr Anto.
Dr Gulat Manurung mengungkapkan tujuan dari kerjasama ini untuk membuka peluang anak petani sawit mengikuti program magister S2 di Universitas Lancang Kuning terkhusus bidang ilmu lingkungan dalam rangka meningkatkan SDM anak-anak petani sawit bidang lingkungan.
"Yang biasanya kerjasama SDM anak-anak kami itu cuma D3-S1, tetapi didalam program ini kita ingin mewujudkan kerjasama ke S2 melalui program pascasarjana ilmu lingkungan di Universitas Lancang Kuning,” tuturnya.
Menurutnya ilmu lingkungan saat ini sangat erat hubungannya dengan sawit dan keberlanjutan dan SDM. Sektor ini menjadi fakus penguatan yang dilakukan apkasindo.
Dijelaskan Dr Gulat, kenapa dengan Universitas Lancang Kuning? Sebab menurutnya Unilak merupakan salah satu perguruan tinggi yang cukup diminati oleh masyarakat Riau. Sementara Riau sendiri memiliki 4,172 juta hektar kebun sawit dan menjadikan Riau memiliki kebun terluas se-Nusantara.
"Ke depannya kami juga akan melakukan hal yang sama ke berbagai universitas di daerah sawit. Justru aneh jika universitas di Riau malah sibuk dengan vokasi ilmu tanaman lain yang tidak familiar dengan Riau. Riau harus menjadi rujukan SDM bidang sawit” kata Gulat.
“Inilah tugas APKASINDO supaya kita sama-sama menjaga sawit seperti saat ini salah satunya dan kami juga melakukan program jaga sawit di 21 Provinsi APKASINDO lainnya, karena sawit adalah kita, Indonesia dan dunia ikut menikmatinya, tagline Gulat dengan semangat,” imbuhnya.
Lebih lanjut Gulat mengajak Universitas Lancang Kuning melakukan riset-riset afirmasi dengan tujuan khusus dalam arti untuk melihat, mempertimbangkan tujuannya guna memberikan solusi praktis industri kelapa sawit. Karena keunggulan universitas adalah memberikan pandangan akademis dalam merencanakan, menganalisa, memprediksi dan rekomendasi penyelesaian sebuah masalah.
“Jangan sudah kejadian baru diriset, harus bisa memprediksi dan universitas harus hadir disana”. Universitas Lancang Kuning sudah sangat berkembang dan menjadi universitas rujukan. Sudah saat nya juga menjadi mitra startegis stakeholder sawit khususnya 448 korporasi sawit di Riau dan tentunya kami petani sawit. Tidak elok jika korporasi berusaha di Riau tapi tidak menggandeng universitas di Riau sebagai mitra. Kami akan inventarisasi korporasi sawit di Riau yang sudah dan tidak memiliki kerjasama dengan Universitas di Riau, kita buat bersama tabel nya, lalu kita umumkan di media," bebernya.
Menurutnya data tersebut pasti dapat dikumpulkan, apalagi tanggal 14 Juli nanti Full Tim Satgas Tatakelola Sawit Indonesia akan ke Riau sosialisasi sistem pendaftaran korporasi sawit ‘self reporting’ melalui aplikasi SIPERIBUN. Tentu akan lebih mudah mencari datanya.
"Jadi MoU ini relevan dengan Satgas Sawit yang akan bekerja dan berkantor di Riau," tandasnya.
Pengamat Nilai Kerjasama Antara Pascasarjana Unilak dan Apkasindo Riau Sangat Bermanfaat
Diskusi pembaca untuk berita ini