Papua, elaeis.co - Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) saat ini tengah gencar mensosialisasikan program Beasiswa Sawit 2026. Tidak terkecuali di Provinsi Papua yang juga menjadi salah satu sentra kelapa sawit di Indonesia.
Animo program ini cukup mendapat sambutan hangat dari petani kelapa sawit, sebab membantu para generasi muda khususnya anak-anak petani dapat menikmati pembelajaran di perguruan tinggi. Bahkan saat ini ada 42 perguruan tinggi yang menjadi penyelenggara program tersebut.
Kendati begitu, sejumlah hambatan masih menjadi ganjalan suksesnya program tersebut dinikmati para anak petani kelapa sawit. Misalnya di wilayah Papua, persyaratan atau kategori seleksi sebagai penerima menjadi tantangan tersendiri.
"Kalau kami menilai, persyaratan yang ada cukup berat khususnya bagi generasi muda di Papua. Papua tidak dapat dibandingkan dengan wilayah lain, terutama dari sisi pendidikan," terang Sekretaris Apkasindo Papua, R Yonas Rahaningmas saat berbincang dengan elaeis.co, Minggu (17/5).
Cerita Yonas, tidak sedikit anak-anak petani kelapa sawit yang berkeinginan untuk mengikuti program tersebut. Namun, kebanyakan gagal saat ujian.
Disamping pendidikan, tantangan lain adalah minimal usia yang menjadi patokan. Rata-rata, minimal usia juga membuat peserta tidak lolos untuk menjadi penerima manfaat Beasiswa Sawit tadi.
"2021 lalu, kita mendata banyak anak petani yang mendaftarkan diri untuk ikut mendapatkan beasiswa ini. Tapi rata-rata gagal lantaran usia dan manajemen pendidikan yang masih kurang," bebernya.
Diluar itu, minimnya anak-anak Papua yang lolos dalam program tersebut lantaran Dinas Perkebunan yang menjadi perpanjangan tangan BPDP tidak berkoordinasi dengan asosiasi petani kelapa sawit di Papua. Dinas mencari sendiri para peserta yang akhirnya malah tidak maksimal.
"Harapan kita, dinas berkoordinasi dengan asosiasi seperti kita. Sehingga kita biasa arahkan kepada anak-anak petani yang berminat. Dua tahun ini kita tidak diajak koordinasi sehingga tidak ada anak Papua yang lolos dalam program tersebut," jelasnya.
"Padahal, setiap tahun kita menerima usulan dari petani terhadap anaknya yang ingin ikut mengenyam pendidikan di perguruan tinggi lewat program itu. Seperti saat ini, kita sudah ada 7 orang anak petani yang minta dibantu untuk ikut berkompetisi mendapatkan beasiswa tadi. Jadi kalau bisa dinas berkoordinasi, sehingga kita juga dapat membantu," imbuhnya.
Menurut Yonas, program Beasiswa Sawit ini sangat bermanfaat untuk pengembangan generasi muda di sektor perkebunan sawit. Namun pihaknya cukup menyayangkan sedikitnya generasi Papua yang lolos menjadi penerima beasiswa tersebut.
"Sejak 2021 mungkin baru 20 orang yang lolos program tersebut. Padahal kuotanya ribuan orang," tandanya
Persyaratan Jadi Tantangan Program Beasiswa Sawit di Papua
Diskusi pembaca untuk berita ini