Memang, Politeknik CWE yang beroperasi sejak 2006 merupakan salah satu kampus yang telah lama menjalin kerjasama sebagai kampus mitra program beasiswa sawit tersebut. Yakni sejak tahun 2018, ketika pertamakali program beasiswa sawit diarahkan untuk perkuliahan. Sebelumnya, pada 2016, Politeknik CWE yang mengusung moto 'Tanggap,Tanggon,Trengginas' ini sempat bermitra dengan BPDP dalam menyelenggarakan kursus singkat atau pelatihan kelapa sawit, dengan peserta guru dan pelajar SMK.

Dari tahun ke tahun, program beasiswa sawit itu terus digenjot dengan melibatkan lebih banyak lagi kampus mitra. Dari yang awalnya hanya melibatkan dua kampus, terus bertambah menjadi 23 kampus mitra pada 2024, dan pada 2025 ini bertambah lagi menjadi 41 kampus mitra. Jumlah penerima beasiswa pun tiap tahunnya terus bertambah. Tahun lalu tercatat 3.000 mahasiswa, tahun ini menjadi 4.000 mahasiswa. 

Dari tren perkembangan program beasiswa yang sangat menggembirakan ini, para pengelola kampus mitra, termasuk Poltek CWE, merasa yakin akan semakin banyak SDM sawit berkualitas dapat yang dihasilkan, sehingga diharapkan mampu turut mendorong perkembangan perkebunan dan industri sawit di Tanah Air. Terlebih Indonesia sebagai produsen terbesar sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia.

Tak mengherankan jika Nugroho dalam sambutannya itu berharap agar para lulusan Politeknik CWE dapat turut berperan penting dalam industri dan perkebunan kelapa sawit, termasuk di lingkup kebun swadaya. Ia menyoroti kebun swadaya yang produktivitasnya masih jauh di bawah produktivitas kebun besar swasta.

“Anda para wisudawan-wisudawati yang sebagian besar adalah putra-putri pekebun swadaya, saya harapkan cukup banyak yang kembali ke kebun keluarganya. Meskipun Saudara bekerja di perusahaan besar, saya harapkan pengalaman di perusahaan juga harus dapat diterapkan ke kebun keluarga,” kata Nugroho.
 
Menurut Nugroho, tidak hanya terkait pengelolaan kebun, kelembagaan pekebun juga dapat dijadikan ladang berkarya bagi alumni. Ia mengatakan, masih banyak dibutuhkan tenaga pendamping dan penyuluh yang dapat mendukung program peremajaan sawit rakyat, peningkatan sarana prasarana, dan peningkatan perolehan sertifikasi ISPO bagi kebun masyarakat. 

“Kami yakin dengan bekal ilmu dan praktik selama menempuh pendidikan di sini, Anda dapat mengembangkan sawit Indonesia dengan inovasi, produktivitas meningkat, dan tata kelola yang berkelanjutan,” Nugroho menegaskan.