Kondisi ini membuat kalangan industri mempertanyakan arah transisi ke B50. Alih-alih meningkatkan efisiensi energi, justru ada risiko beban subsidi baru yang membengkak.
Sahat menilai pemerintah perlu berani mengambil langkah strategis dengan beralih ke teknologi hydrogenated vegetable oil (HVO), atau green diesel, yang kualitasnya setara solar fosil dan tidak membutuhkan modifikasi mesin.
“Teknologi HVO ini sudah dikaji sejak tiga tahun lalu. Tapi sampai sekarang belum ada keberanian untuk dijalankan. Padahal, HVO lebih stabil, tidak menyerap air, dan daya simpannya jauh lebih lama,” jelasnya.
Ia menegaskan, ketergantungan pada FAME bukan hanya soal teknis, tapi juga cerminan stagnasi inovasi industri sawit.
“Nilai tambah FAME hanya sekitar USD 85 dari CPO, sementara produk bio lain bisa mencapai USD 2.800 per ton. Kalau terus terpaku di situ, kita hanya berputar di lingkar lama,” kata Sahat.
Menurutnya, transisi ke B50 seharusnya menjadi momentum lompatan kualitas hilirisasi energi sawit nasional, bukan sekadar memperbesar volume campuran biodiesel. Tanpa pembaruan teknologi, Indonesia berisiko kehilangan daya saing di tengah transisi energi global.
“Kalau terus bertumpu pada FAME, B50 hanya akan menjadi simbol politik energi, bukan solusi masa depan. Indonesia butuh keberanian untuk beranjak dari teknologi lama menuju energi hijau yang sejajar dengan standar dunia,” pungkasnya.
Transisi B50 Terancam Gagal Jika Indonesia Terus Andalkan FAME
Diskusi pembaca untuk berita ini