Selain pendidikan akademik, mahasiswa penerima beasiswa sawit juga dibekali praktik lapangan agar siap menjadi calon pekebun profesional. “Kami ingin mereka bukan hanya cerdas secara teori, tapi juga tangguh secara mental dan fisik,” jelas Alfansyah.
Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan Kementan, Baginda Siagian, menegaskan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Ditjen Dikti agar ada relaksasi khusus.
“Program beasiswa sawit ini berbeda dengan reguler, jadi tidak bisa dipaksakan sama. Kemendikti sudah setuju memberikan kelonggaran,” katanya.
Meski dihantui masalah administrasi, pemerintah dan BPDP optimistis program ini tetap akan mencetak SDM unggul perkebunan. Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia diharapkan menjadi motor penggerak industri sawit berkelanjutan di masa depan.
“Kalau ada keterlambatan uang saku, itu murni soal administrasi. Yang penting, kuliah dan pembelajarannya tidak terhambat,” tegas Baginda Siagian.
Dengan perbaikan sistem, beasiswa sawit diharapkan tidak lagi tersandung masalah teknis, melainkan benar-benar fokus menyiapkan generasi muda untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.
Uang Saku Beasiswa Sawit Telat Cair, Sistem Belum Beres
Diskusi pembaca untuk berita ini