Lebih lanjut, Feiral menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, PT Pertamina (Persero), dan industri kelapa sawit. Pemerintah dinilai perlu menjaga konsistensi regulasi jangka panjang, sementara industri harus memastikan ketersediaan bahan baku yang memenuhi prinsip keberlanjutan.

Menurutnya, kolaborasi tersebut akan menjadi fondasi dalam membangun ekosistem bioenergi nasional yang kuat sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

Feiral menambahkan pengalaman Indonesia dalam menjalankan program mandatori biodiesel selama beberapa tahun terakhir menjadi modal penting untuk memperkuat posisi sebagai salah satu pemimpin pengembangan biofuel dunia.

Ia optimistis, jika konsistensi kebijakan, investasi di sektor hilir, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan terus dijaga, Indonesia tidak hanya mampu mengurangi impor BBM, tetapi juga menjadi pemain utama dalam industri bioenergi berkelanjutan.

Dengan potensi sumber daya kelapa sawit yang melimpah, program B50 dinilai dapat menjadi salah satu instrumen penting menuju ketahanan energi nasional. 

Namun, Feiral menegaskan bahwa keberhasilan program tersebut pada akhirnya ditentukan oleh kepercayaan publik yang dibangun melalui implementasi yang konsisten, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.