Jakarta, elaeis.co - Program mandatori biodiesel B50 dinilai memiliki potensi besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). 

Namun, keberhasilan implementasinya dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, melainkan juga harus dibarengi dengan meningkatnya kepercayaan publik terhadap penggunaan bahan bakar tersebut.

Pengamat Energi Feiral Rizky Batubara mengatakan program B50 merupakan langkah strategis dalam memperbesar pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik. 

Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi harga minyak dunia, peningkatan kandungan biodiesel hingga 50 persen diyakini mampu memperkuat pasokan energi nasional sekaligus menghemat devisa negara.

"Program B50 bukan sekadar pencampuran bahan bakar, tetapi strategi nasional untuk mengubah keunggulan sumber daya alam Indonesia menjadi kemandirian energi yang nyata," kata Feiral dalam keterangannya, Sabtu (12/7).

Meski demikian, ia menilai keberhasilan program tersebut juga sangat bergantung pada tingkat penerimaan masyarakat. Karena itu, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat edukasi dan sosialisasi mengenai kualitas, keamanan, serta manfaat penggunaan biodiesel agar kepercayaan publik terus meningkat.

Menurut Feiral, tanpa dukungan masyarakat, program strategis seperti B50 berisiko hanya dipandang sebagai kebijakan sesaat atau bahkan sekadar gimik.

Oleh sebab itu, pembuktian melalui hasil pengujian teknis, transparansi implementasi, dan jaminan kualitas bahan bakar menjadi faktor penting untuk membangun keyakinan publik.

Selain meningkatkan pemanfaatan energi domestik, implementasi B50 juga diproyeksikan memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional. Program tersebut diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan sektor perkebunan kelapa sawit, industri pengolahan, hingga sektor logistik, sekaligus memperbaiki neraca perdagangan melalui penurunan impor BBM.

Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan infrastruktur pendukung, mulai dari fasilitas blending, penyimpanan, distribusi, hingga sistem pengendalian mutu biodiesel agar implementasi berjalan optimal dan berkelanjutan.

"Seluruh aspek tersebut harus dipastikan berjalan dengan baik agar implementasi B50 tidak hanya sukses secara teknis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan energi yang maksimal," ujarnya.