Jakarta, elaeis.co - Indonesia mulai bergerak menuju musim kering pada periode Mei hingga Juli 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi ketersediaan air bagi tanaman, termasuk kelapa sawit, masih berada pada level cukup, tetapi tekanan kekeringan mulai meluas di sejumlah wilayah sentra perkebunan.
Berdasarkan buletin informasi iklim komoditas sawit edisi April 2026, penurunan curah hujan dan meningkatnya penguapan menyebabkan cadangan air tanah di beberapa daerah mulai menyusut.
Kondisi ini diperkirakan menjadi ancaman serius bagi produktivitas sawit jika berlangsung hingga puncak musim kemarau pertengahan tahun.
Pada Mei 2026, mayoritas wilayah Indonesia masih berada dalam kategori cukup. Namun tanda-tanda kekeringan mulai terlihat di sejumlah daerah, terutama di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.
Wilayah dengan kategori ketersediaan air sedang diprediksi muncul di sebagian Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta beberapa wilayah Sulawesi.
Sementara kategori kurang mulai terdeteksi di sebagian Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, hingga Sulawesi bagian utara dan selatan.
Kondisi tersebut menandakan wilayah Jawa menjadi area paling awal mengalami penyusutan cadangan air tanah.
Memasuki Juni 2026, tekanan terhadap ketersediaan air diperkirakan semakin meluas. BMKG mencatat wilayah kategori sedang mulai menjangkau Aceh, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Bali, Kalimantan Selatan, hingga Papua Selatan.
Ketersediaan Air Menyusut, Wilayah Sawit Indonesia Diprediksi Masuk Zona Rawan
Diskusi pembaca untuk berita ini