Harry menegaskan mesin diesel modern pada prinsipnya mampu menggunakan B50. Namun, teknologi injeksi bertekanan tinggi membuat komponen seperti injektor, filter bahan bakar, hingga saluran distribusi solar jauh lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar dibandingkan mesin diesel generasi lama.
Karena itu, Kia tetap merekomendasikan penggunaan solar berkualitas tinggi dengan kandungan sulfur di bawah 50 ppm, seperti Pertamina Dex, agar sesuai dengan standar Euro 4 yang digunakan Carnival Diesel.
"Kualitas bahan bakar menjadi faktor utama. Mesin Euro 4 membutuhkan solar dengan sulfur rendah agar performa tetap optimal dan umur komponen lebih panjang," jelasnya.
KSI juga menyoroti tantangan lain, yakni ketersediaan BBM diesel rendah sulfur secara merata di seluruh Indonesia. Berdasarkan informasi dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), distribusi solar berstandar Euro 4 diperkirakan baru akan merata hingga pelosok daerah pada akhir 2027.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pabrikan memilih menunggu implementasi penuh B50 sebelum memberikan rekomendasi penggunaan secara menyeluruh kepada konsumen.
Di sisi lain, penerapan B50 merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan bauran energi terbarukan sekaligus memperkuat hilirisasi industri kelapa sawit nasional. Program ini diharapkan mampu menekan impor solar, meningkatkan nilai tambah sawit, serta memperluas pemanfaatan biodiesel di sektor transportasi.
Dengan formulasi yang mengombinasikan FAME dan HVO, pemerintah berharap B50 memiliki performa lebih baik dibandingkan biodiesel generasi sebelumnya sekaligus tetap kompatibel dengan kendaraan diesel modern.
Meski begitu, kesiapan infrastruktur distribusi dan kepastian standar kualitas bahan bakar menjadi faktor penting agar implementasi B50 dapat berjalan optimal tanpa mengganggu kinerja kendaraan maupun kepercayaan konsumen.
Kia Carnival 2026 Siap Pakai BBM B50, Tapi Ada Catatan Penting dari Pabrikan
Diskusi pembaca untuk berita ini