Inhu, elaeis.co - Penyerangan berdarah yang terjadi di areal perkebunan kelapa sawit PT Sinar Belilas Perkasa (SBP) di Desa Sungai Raya, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, masih menyisakan tanda tanya. 

Pasalnya, hingga kini polisi belum berhasil mengamankan semua para tersangka yang terlibat dalam tragedi tersebut. 

Jika dihitung-hitung, sudah dua bulan lamanya pristiwa itu terjadi sejak Senin (1/6/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Namun hingga kini baru tiga dari enam orang tersangka yang berhasil diamankan Polres Inhu. 

Sementara, tiga lainnya masih berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO) hingga saat ini. Forum 3 Desa dan 1 Kelurahan di Inhu pun mendesak agar kepolisian daerah Provinsi Riau menuntaskan kasus tersebut. 

"Kami sudah sangat sabar menunggu. Sudah hampir 2 bulan tragedi itu terjadi tapi sampai sekarang tiga tersangka lainnya belum juga diamankan," kata Ketua Forum 3 Desa dan 1 Kelurahan, Zaudi Alamsyah kepada elaies.co, Senin (21/7). 

Menurut Zaudi, salah satu tersangka yang mesti diamankan adalah Ketua LSM Nara yang juga diduga kuat memiliki keterkaitan erat dengan Ketua DPRD Inhu, Sabtu Pradansyah Sinurat. 

"Kami menuntut agar kasus ini diusut tuntas, jangan sampai ada perlindungan atau tarik ulur kepentingan di balik pristiwa ini," ujarnya. 
 
Untuk itu forum ini menaruh harapan besar kepada Polres Inhu agar tetap tegak lurus, profesional, dan memproses perkara ini tanpa pandang bulu.
 
Hal ini juga dipertegas oleh salah satu pengurus forum, Sahrianto, yang menduga keterlibatan Ketua DPRD Inhu sangat kuat dalam peristiwa berdarah tersebut. 

Diawali dengan keberadaan berat AMI Group yang terlihat mondar-mandir di lokasi HGU PT SBP. Kendati Sabtu tidak mengaku punya kaitan dengan AMI Group, namun menurut Sahrianto fakta di lapangan tidak bisa dihindari bahwa owner AMI Group diduga kuat adalah Sabtu Pradansyah Sinurat. 

"Kantor dan bengkel PT AMI tepat berada di sebelah kediaman megah pribadi Ketua DPRD Inhu. Belum lagi jejak keterlibatan dalam rentetan konflik lahan, penyerangan karyawan, hingga dugaan perlindungan terhadap kelompok yang didukung oleh Ketua DPRD. Semua fakta di lapangan terlihat, sulit rasanya jika hanya dianggap kebetulan saja," ujarnya.