Medan, Elaeis.co - Sama-sama tinggal di Banda Aceh, dua tokoh perkelapasawitan Aceh ini, Sabri Barsyah dan Sofyan Abdullah, menggelar diskusi dadakan di Medan, Senin (29/11/2021) siang. Pertemuan itu tak direncanakan, kebetulan saja keduanya sedang berada di Medan untuk urusan berbeda.
Kesempatan untuk bertemu pun tak disia-siakan. Bukan sekedar berbual-bual, yang mereka bicarakan adalah upaya pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di tingkat petani di Aceh sebagai tindak lanjut dari kesepakatan antara Indonesia dan Belanda yang dijalin beberapa waktu lalu.
"Saya dan Pak Agus Salim, pengusaha gula merah sawit, kebetulan ada urusan di Medan. Rupanya Pak Sabri menginformasikan ke kami kalau beliau juga ada urusan bisnis di Medan. Jadilah kami bertemu membahas tindak lanjut kerja sama Indonesia – Belanda itu," kata Sofyan Abdullah, kepada Elaeis.co, kemarin sore.
Sofyan adalah Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Aceh. Sedangkan Sabri Barsyah adalah Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh.
Menurut Sofyan, yang dia bahas bersama Sabri mencakup sejumlah hal yang terkait dengan pembangunan sawit berkelanjutan seperti mengoptimalkan program peremajaan sawit rakyat (PSR) sebagai bagian dari upaya pencegahan pembukaan lahan baru untuk perluasan kebun sawit.
Lalu rencana mengoptimalkan pendapatan petani dari kebun sawit miliknya, serta berbagai standar pengelolaan kebun lainnya seperti yang diamanatkan dalam proses sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO).
"Nah, Aceh kan jadi salah satu pilot project kerja sama antara Belanda dan Indonesia. Jadi, kita mau persiapkan secara matang. Apalagi dalam waktu dekat Pak Sabri mau ke Jakarta untuk membicarakan hal ini dengan Ibu Musdhalifah Mahmud, Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian," beber Sofyan.
Dihubungi terpisah, Sabri membenarkan isi pembicaraan terkait pekerjaan besar yang menanti para pemangku kepentingan sawit di Aceh. "Doakanlah supaya pilot project ini berhasil ya," ucapnya singkat.
Sekadar informasi, laman resmi Kementerian Perekonomian edisi 9 November 2021 menyebutkan Pemerintah Indonesia dan Kerajaan Belanda melakukan kerja sama pada sektor pertanian, khususnya kelapa sawit, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para pekebun kelapa sawit rakyat dengan melakukan adaptasi dan mitigasi akibat perubahan iklim.
Kerja sama ini juga sebagai lanjutan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) on Sustainable Palm Oil Production Cooperation yang telah ditandatangani kedua belah pihak di New York, Amerika Serikat, pada 26 September 2019 lalu.
Semua kesepakatan itu kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan teknis dan pembentukan Bilateral Economic Commission sebagai wadah dialog bagi kedua negara di acara talk show bertajuk National Initiatives for Sustainable and Climate Smart Oil Palm Smallholders (NI-SCOPS) yang diselenggarakan oleh Paviliun Benelux (Belgium, the Netherlands, and Luxembourg) dalam rangkaian kegiatan UN Climate Change Conference of the Parties (COP 26) United Nations Framework on Climate Change Conference (UNFCCC) di Glasgow, Skotlandia, (2/11/2021).
“Kegiatan NI-SCOPS dilaksanakan di empat provinsi di Indonesia dengan implementing partners yaitu Indonesia Distribution Hub (IDH) untuk wilayah Aceh dan Sumatera Utara serta Solidaridad untuk wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur,” kata Musdhalifah Machmud di laman resmi tersebut.
Aceh Jadi Pilot Project Sawit, APKASINDO dan GAPKI Siap-siap
Diskusi pembaca untuk berita ini