Jakarta, elaeis.co - Ketua Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI), Dikki Akhmar, melontarkan kritik keras terhadap tata kelola distribusi hasil pertanian di Indonesia yang dinilainya sudah bermasalah selama puluhan tahun.
Ia menyebut petani masih menjadi pihak paling lemah dalam rantai pasok, bahkan hanya menjadi “penonton di ladang sendiri”.
Menurut Dikki, persoalan utama sektor pertanian bukan terletak pada kurangnya teknologi, melainkan pada sistem distribusi dan perdagangan yang tidak berpihak pada petani.
“Selama sekitar 40 tahun, sistem distribusi kita ini bobrok. Petani kerja keras, tapi harga dan keuntungan ditentukan pihak lain,” ujar Dikki di Jakarta, Selasa (3/6).
Ia menilai keberadaan tengkulak, ijon, hingga praktik penguasaan pasar oleh pihak tertentu masih menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan hingga saat ini.
Kondisi tersebut membuat petani tidak memiliki posisi tawar dalam menentukan harga hasil panen mereka.
“Petani itu kerja dari pagi sampai sore, tapi yang menikmati hasil justru bukan mereka. Ini sudah seperti ketimpangan struktural yang dibiarkan terlalu lama,” katanya.
Dikki juga menyoroti dampak jangka panjang dari kondisi tersebut, yakni menurunnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.
Menurutnya, banyak anak petani memilih meninggalkan lahan karena melihat ketidakpastian pendapatan di sektor tersebut.
“Bukan karena mereka malas, tapi karena mereka melihat sendiri bahwa jadi petani tidak menjanjikan kesejahteraan,” ujarnya.
APCASI Bongkar Fakta Kejam 40 Tahun Petani RI Jadi Budak Tengkulak di Ladang Sendiri
Diskusi pembaca untuk berita ini