Dari sisi neraca perdagangan, riset UI memperlihatkan dampak ekonomi yang kompleks. Meski B50 diprediksi bisa menghemat devisa hingga Rp172 triliun akibat berkurangnya impor solar, ekspor CPO berpotensi turun hingga Rp190,5 triliun. Secara keseluruhan, neraca perdagangan bisa negatif Rp18,15 triliun.

Kebijakan B50 juga menuntut tambahan subsidi sekitar Rp46,45 triliun, yang hanya bisa ditutup jika tarif pungutan ekspor dinaikkan dari 10 persen menjadi 15,17 persen. Perhitungan tim riset UI menunjukkan, kenaikan ini bisa menekan harga TBS hingga Rp1.725 per kilogram di tingkat petani.

Eugenia menekankan perlunya kebijakan dinamis dan seimbang. “Ambisi energi hijau penting, tapi pemerintah juga harus melindungi petani dan pelaku usaha kecil. Kalau kebijakan terlalu kaku, yang kuat makin dominan, yang lemah makin tertekan,” tutupnya.

Dengan pendekatan fleksibel, Indonesia bisa tetap bersaing di pasar sawit global, menjaga keseimbangan ekonomi, sekaligus melindungi petani lokal dari tekanan harga yang merugikan.