Yogyakarta, elaeis.co - Hampir 25 menit orang-orang yang berada di dalam gedung di kawasan Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta itu terdiam menyimak omongan lelaki 58 tahun itu. Omongan yang mengingatkan semua orang tentang masa depan sawit Nasional.   

Bahwa kinclongnya industri sawit Indonesia saat ini, bisa jadi kelak meredup dan kemudian padam. Padam bukan lantaran produknya tidak laku, tapi oleh ulah oknum anak bangsa yang berusaha menghancurkan industri yang sesungguhnya telah menjadi icon Nusantara itu. 

Dibilang icon, lantaran saban tahun sawit memberikan devisa hingga Rp500 triliun, kehidupan lebih dari 16 juta jiwa ditopang sawit dan banyak kampung tempat "jin buang anak" berubah menjadi perkotaan.  

"Pertumbuhan permintaan sawit hingga 2045 sekitar 25%-50% dari kondisi sekarang. Sebab pertumbuhan penduduk berada di sekitar 18%. Di sisi lain, pertumbuhan produksi telah mencapai 40%-50% dari yang ada sekarang. Makanya saya enggak heran kalau di tahun 2045 itu, produksi minyak sawit kita sudah mencapai 100 juta ton. Terus, ini mau dibawa kemana?" Bayu Krisnamurthi bertanya.
  
Berapi-api bekas Wakil Menteri Perdagangan ini ngomong saat didaulat menjadi pembicara di Forum Sawit Indonesia (FoSI) yang digelar pekan lalu itu. 

Ekspor biodiesel kata bekas Direktur Utama Badan  Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) ini kita, telah turun dari sekitar 1,5 juta ton menjadi 200 ribu ton. 

"Artinya, di dunia saat ini yang pakai biodiesel sawit dalam jumlah besar itu cum Indonesia. Kalau surplus kita nanti segitu besar, mau dibawa kemana? Ini yang menurut saya menjadi pertanyaan yang sangat mendasar," tegasnya. 

Biar yang dikhawatirkan itu enggak kejadian dan minyak sawit 'melenggang' masuk ke pasar dunia, Bayu meminta supaya dalam membikin kebijakan, semuanya satu visi dan misi. 

"Bayangkan kalau Gulat (Ketua Umum DPP Apkasindo), Joko (Ketua Umum GAPKI), KLHK, Kementan bikin visi masing-masing, mau jadi apa? Sementara itu semua datangnya dari satu pohon (sawit)," lagi-lagi Staf Ahli Menteri Koordinator Perekonomian (Menko Perekonomian) Bidang Penanggulangan Kemiskinan (2005-2008) bertanya.

Menurut Bayu, semua orang musti paham bahwa proses perubahan di industri sawit itu butuh waktu sekitar 10-15 tahun, bukan ujug-ujug, enggak bisa dalam hitungan minggu atau bulan. Itulah makanya peraturan atau regulasi tentang sawit itu harus jangka panjang, tidak boleh berubah-ubah dalam waktu singkat.

"Tak lama lagi akan ada pemerintahan baru, sangat mungkin ada pergantian menteri hingga dirjen. Kalau yang baru itu mengerti soal sawit, bisalah kita tidur nyenyak, tapi sudahlah baru dan enggak ngerti pula, terus dia mengambil keputusan seolah-olah sawit itu gampang, ini yang kacau. Ingat, memperbaiki kerusakan akibat kesalahan kebijakan, justru jauh lebih berat," katanya.
    
Sustainability adalah sesuatu konfrehensif, pakai SDGs. Lantaran itu Bayu meminta agar semua sepakat bahwa bahwa sustainability itu keinginan bersama.

"Saya sangat yakin kita ingin anak lebih sejahtera dari kita. Itulah tanda sustain, tidak hanya sekadar bicara ilegal land use atau masalah difersifikasi atau biodiversity. Enggak cukup hanya itu. Harus konfrehensif," ujarnya. 

Di sisi lain, pasar makin total minta sustainablity. Tengoklah, baru-baru ini sudah ada seminar di Jakarta tentang green Cina. 

"Cina, kalau sudah membikin keputusan, enggak bisa ditawar-tawar lho. Kalau Cina sudah minta ini, wah, habis kita. Sebab negara lain juga akan ikut. Jadi, enggak ada cela bilang jangan jual ke Eropa lantaran Eropa cerewet, kita jual di sini saja. Enggak bisa begitu, sebab semua akan meminta sustainability itu," paparnya.

Lalu apa yang musti dilakukan terkait sustainability ini? "Bikin ISPO menjadi sertifikasi dari bisnis sustainability itu, bukan cuma sertifikasi produk legal. Sekarang kan yang dikejar itu hanya masalah legal. Kalau itu enggak legal, drop semua. Bisa nggak kita lihat dari dimensi lain? Misalnya begini, dia sustainable dalam pengelolaan, tapi legalitasnya belum beres. Jadi jangan satu belum beres, yang lain nggak dianggap. Kalau gini terus, kita akan selalu menjadi pihak yang ditentukan orang, bukan menentukan," katanya. 

Lagi-lagi kata Bayu, biar industri sawit Indonesia berjalan moncer, para pelaku dan regulatornya enggak boleh lagi terkotak-kotak. 

"Enggak ada yang bisa jalan sendiri. Bintang tujuh --- pemerintah, pengusaha, petani, pendidik, peneliti, media dan asosiasi --- sawit itu harus jalan sama-sama. Pendidik, peneliti, media dan asosiasi, empat ini adalah Necessary Decisition Maker. Bersama-sama baru kita punya kemampuan," ujarnya.