Medan, Elaeis.co - Faktanya sektor perbankan di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada tahun 2023 menunjukkan stabilitas yang tercatat konsisten dan dengan modal yang kokoh dan likuiditas yang memadai.
“Tetapi di saat yang sama, peran intermediasi perbankan di Sumut sedikit terbatas,” kata Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Kantor OJK Sumut, Wan Nuzul Fachri.
Hal itu ia sampaikan kepada para wartawan dalam paparan resmi kinerja ekonomi Sumut untuk tahun 2023 di kantor OJK Sumut di Jalan Gatot Subroto, Kamis (1/2/2024).
Dikatakannya, hingga November 2023, total penyaluran kredit oleh bank umum di Sumut mencapai Rp 256,81 triliun.
Baca juga : Budi Santoso Ungkap Penyebab Kenaikan Harga Referensi CPO Periode Februari 2024
Ini berarti mengalami pertumbuhan sebesar 0,69 persen secara tahunan atau year or year (yoy), setelah sebelumnya terkontraksi selama pertengahan tahun.
Dikatakannya, penyaluran kredit didominasi oleh kredit produktif yang mencapai Rp 180,43 triliun atau 70,26 persen dari total kredit.
Namun, katanya, pertumbuhan kredit tersebut justru termoderasi atau mengalami perlambatan sebesar negatif 2,67 persen secara yoy.
Nah, Wan lalu mengatakan kalau perlambatan kredit produktif juga dipengaruhi oleh distribusi kredit di sektor pertanian yang sempat tersendat.
Baca juga : Segini Nilainya, Mulai Februari 2024 Penetapan Harga Referensi CPO Kembali Dilakukan Sekali Sebulan
“Kredit utama ke subsektor perkebunan kelapa sawit yang melambat seiring dengan masih lemahnya harga minyak sawit mentah atau minyak sawit mentah (CPO) di pasar global dan industri pengolahan,” ungkap Wan.
Terutama sekali, tambahnya, adalah kredit perbankan ke industri pengolahan minyak goreng dari kelapa sawit yang lebih moderat sepanjang tahun 2023 akibat rendahnya permintaan dari mitra dagang utama.
Namun demikian, Wan Nuzul Fachri melihat kredit produktif dari perbankan ke industri pengolahan sawit di Sumut secara stabil telah menunjukkan adanya pemulihan.
Wan Nuzul Fachri lalu menampilkan penyaluran kredit pengolahan minyak goreng dari kelapa sawit yang bertumbuh sebesar 16,52 persen sejak akhir 2022.
“Hal ini turut dipengaruhi oleh permintaan domestik yang tetap kuat seiring dengan kondisi pandemi yang membaik dari tahun sebelumnya,” ucap Wan Nuzul Fachri.
“Ditambah lagi adanya program hilirisasi industri kelapa sawit nasional, yakni program B35 dan B40, yang terus dilakukan pemerintah yang dapat terus meningkatkan kinerja industri pengolahan,” tegaa Wan Nuzul Fachri.
CPO Sempat Memperlambat Penyaluran Kredit Perbankan di Sumut di 2023
Diskusi pembaca untuk berita ini