Dampaknya, distribusi hasil pertanian menjadi lebih lancar dan biaya logistik bisa ditekan. Hal ini turut meningkatkan efisiensi ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan.
Tidak hanya itu, peningkatan pendapatan petani juga berdampak pada sektor pendidikan dan kesehatan. Dengan penghasilan yang lebih baik, masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
“Petani sawit punya kesempatan lebih besar untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga, termasuk pendidikan anak,” kata Dasmin.
Dasmin juga menyoroti efek berganda (multiplier effect) dari industri sawit di pedesaan. Tidak hanya sektor perkebunan yang berkembang, tetapi juga berbagai usaha pendukung lainnya seperti transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro.
Aktivitas ekonomi seperti ojek, kios sembako, warung makan, hingga jasa angkut hasil panen tumbuh seiring meningkatnya aktivitas perkebunan.
“Akan tumbuh kegiatan ekonomi di sekitar kelapa sawit, mulai dari transportasi, perdagangan, hingga usaha mikro lainnya,” ungkapnya.
Meski memberikan banyak dampak positif, Dasmin mengingatkan bahwa pengembangan sawit juga memiliki tantangan yang harus diperhatikan. Salah satunya adalah potensi ketimpangan sosial antara petani dan perusahaan, konflik lahan, serta perubahan struktur sosial masyarakat.
Selain itu, ketergantungan terhadap satu komoditas juga bisa menjadi risiko jika tidak dikelola dengan baik, terutama saat terjadi fluktuasi harga.
“Ketergantungan terhadap sawit membuat masyarakat rentan terhadap perubahan harga pasar,” ujarnya.
Isu lingkungan, hak atas lahan, hingga potensi eksploitasi tenaga kerja juga menjadi perhatian yang perlu diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan masalah jangka panjang.
Untuk memastikan manfaat sawit dapat dirasakan secara optimal, Dasmin menekankan pentingnya tata kelola yang baik, kebijakan yang inklusif, serta keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses pengembangan.
Menurutnya, kemitraan yang adil antara petani, pemerintah, dan pelaku usaha menjadi kunci utama agar industri sawit dapat berjalan berkelanjutan.
“Diperlukan tata kelola yang baik dan partisipasi masyarakat agar manfaat sawit benar-benar dirasakan secara adil,” tegasnya.
Dengan pengelolaan yang tepat, kelapa sawit dinilai bukan hanya sebagai komoditas ekspor unggulan, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam menekan kemiskinan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah 3T.
“Kalau dikelola dengan baik, sawit bisa menjadi motor utama pembangunan ekonomi desa di Indonesia,” pungkas Dasmin.
Dosen UHO Ungkap Sawit Bisa Tekan Kemiskinan di Daerah 3T
Diskusi pembaca untuk berita ini