Pekerjaan ini dia lakukan tentu setelah mendodos pohon kelapa sawit di kebun milik ayahnya, Masran. Sebab hanya dia lagi yang bisa diandalkan Misran setelah jatuh sakit waktu Risa masih SMP.
Kedua, dia ingin membuktikan kepada orang tua dan orang di kampungnya, bahwa Risa yang anak Teluk Kabung itu bukan kaleng-kaleng.
"Asal saya pulang ke kampung, orang-orang di kampung mengeluh-eluhkan saya. Mereka senang dan bangga saya bisa kuliah. Eluhan ini harus saya balas dengan prestasi," suara perempuan ini bergetar.
Begitulah Risa. Gadis ini benar-benar tahu diri, dan akan selalu begitu. Sebab air mata yang pernah tumpah saat tak bisa ikut beasiswa BPDPKS lantaran susahnya jaringan internet di kampungnya di pedalaman sana, tak akan pernah dia lupakan.
Dan seperti apa kemudian Risa nongol di elaeis.co pertama kali dan kemudian dilirik oleh Apkasindo, juga menjadi kesan tersendiri buat dia.
Apkasindo langsung mau menjadi Bapak Angkat SDM Sawit buat Risa. Waktu itu, rapat yang dipimpin oleh Ketua DPW Apkasindo Riau, KH Suher yang kebetulan dihadiri oleh Ketua Umum DPP Apkasindo, Dr. Gulat Manurung, telah sepakat untuk membiayai semua kebutuhan Risa, dari A sampai Z.
Apkasindo menyebutnya Full Beasiswa Bapak Angkat Risa SDM Sawit di Poltek Kampar. Uniknya, Poltek Kampar yang dikomandani Nina Veronika langsung menyatakan siap menerima "anak angkat" Petani Sawit Riau itu.
Apakah Gulat sudah pernah bertemu Risa lagi? "Cukup hati kami yang bercengkrama, dan Risa sudah merasakan cengkrama itu melalui prestasi yang dia toreh. Pada waktunya nanti, kami akan bersua," omongan Gulat terdengar diplomatis.
Lelaki 52 tahun ini kemudian justru berpesan kepada semua stakeholder sawit yang ada di Riau maupun Indonesia agar berlomba-lomba "berguna". Khususnya pada dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan.
"Jangan MANJA alias mengambil manfaat saja. Bayangkan kalau 1 korporasi membeasiswakan satu orang --- saat ini ada 728 korporasi sawit (hulu-hilir) di Riau --- berarti sudah 728 orang anak Riau yang bisa kuliah. Kelak anak-anak ini akan menjadi 'petarung' bagi sawit Indonesia," kata Gulat. Hhhhmmm...gimana?
Gadis Cantik Pendodos Sawit itu Sudah Semester Tiga. IPKnya 3,85
Diskusi pembaca untuk berita ini