Namun, dia khawatir bila tren kenaikan harga CPO terus berlanjut akan berdampak negatif bagi permintaan kelapa sawit. Dalam catatannya, ekspor soyabean telah mampu melampaui kinerja CPO di posisi 40 juta ton pada 2023.
Director Godrej International Ltd., Dorab Mistry memperkirakan harga CPO semester I/2025 bisa menembus level MYR5.000 per ton.
Peningkatan harga terjadi seiring menurunnya produksi di Indonesia dan Thailand. Dia menganggap bila tren kenaikan harga CPO terus berlanjut akan berdampak pada level kompetitif dengan minyak nabati lainnya.
Managing Director Glenauk Economics, Julian Mc Gill, menambahkan saat ini CPO termasuk dalam minyak nabati premium seperti rapeseed. Menurutnya kenaikan harga CPO adalah refleksi dari minimnya ketersediaan di pasar.
Sementara itu, Managing Director Transgraph Nagaraj Meda pun mulai melihat tanda-tanda penurunan permintaan terhadap CPO dalam dekade terakhir.
Ia memaparkan, pada 2014 minyak sawit memiliki market share mencapai 45% terhadap pasokan minyak nabati dunia, sedangkan pada 2024 jumlah itu tergerus menjadi 37%.
Sebagai contoh pasar India yang menjadi tujuan ekspor utama CPO, antara 2012-2013 membukukan penyerapan 8,24 juta ton, naik tipis pada 2023-2024 di posisi 9 juta ton.
Di sisi lain, pada 2012-2013 total ekspor soybean ke India 1,09 juta ton yang telah naik tiga kali lipat menjadi 3,5 juta ton.
Harga CPO Diprediksi Melambung Tersebab Stagnasi Produksi Nasional
Diskusi pembaca untuk berita ini