Jakarta, elaeis.co - Ekspor minyak sawit Indonesia ke India terus menunjukkan geliat positif. Data terbaru Kementerian Perdagangan menegaskan, Negeri Bollywood itu masih menjadi pasar utama dan menyerap hampir 50% pasokan CPO (Crude Palm Oil) Indonesia.

Kondisi ini tidak hanya menjaga arus ekspor tetap stabil, tetapi juga menjadi sumber keuntungan besar bagi perekonomian nasional.

Wijayanto, Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, menyebut capaian ini tak lepas dari kerangka ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) yang sudah berlaku sejak 2010. 

Melalui kesepakatan tersebut, bea masuk lebih dari 74% produk diperdagangkan berhasil ditekan, sehingga memberi ruang lebar bagi minyak sawit Indonesia masuk ke India dengan tarif yang lebih kompetitif.

“Lewat AIFTA, ekspor CPO kita semakin kuat ke India. Saat ini kita juga tengah menjalankan skema Indonesia-India Preferential Trade Agreement (PTA) yang diharapkan bisa semakin mendongkrak kinerja ekspor dalam beberapa tahun ke depan,” ungkap Wijayanto dalam keterangannya. 

Data perdagangan menunjukkan tren ekspor minyak sawit RI ke India cukup konsisten. Tahun 2021, total ekspor dengan Certificate of Origin lewat skema AIFTA mencapai USD13,34 juta, dengan porsi CPO sebesar USD10,76 juta. Setahun berselang, nilai ekspor melonjak menjadi USD23,37 juta dengan CPO mencapai USD19,11 juta.

Meskipun pada 2023 nilai ekspor turun sedikit menjadi USD20,29 juta, kontribusi CPO justru naik ke angka USD19,54 juta. Adapun pada 2024, ekspor total tercatat USD20,34 juta, dengan ekspor CPO senilai USD16,22 juta. 

Artinya, sekitar 79,76% ekspor Indonesia ke India masih ditopang oleh minyak sawit. India memang pantas disebut “raja impor sawit dunia”. Sejak 2020 hingga 2024, permintaan minyak sawit mereka naik rata-rata 5,06% per tahun, jauh lebih tinggi dibanding tren global yang justru merosot -2,15%.

Pada 2024 saja, India mengimpor 8,62 juta ton minyak sawit, setara dengan 20% dari total produksi global. Dari jumlah itu, Indonesia menguasai 50% pasar, diikuti Malaysia 31%, Thailand 8%, Singapura 7%, serta Papua Nugini dan negara lain masing-masing 2%.