Jambi, elaeis.co - Status Provinsi Jambi sebagai salah satu daerah sentra penghasil karet alam utama di Indonesia sepertinya akan berakhir pada waktunya.
Hal itu setidaknya bila merujuk pernyataan dari Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Jambi, Kasriwandi.
"Sekitar 60 persen dari total 1 juta hektar luas areal perkebunan karet rakyat di Jambi, seluas 60 persen di antaranya sudah beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit," katanya.
Ditanya dari mana mendapatkan data itu, Iwan --panggilan akrab Kasriwandi-- mengatakan, "Dari Dinas Perkebunan," sebutnya kepada elaeis.co, Senin (20/2) kemarin.
Menurut Iwan, pemicunya adalah saat harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di atas angka Rp2.000/kg, yang terjadi di 2019 lalu. Sementara di bagian lain harga karet alam nyaris tidak bergerak naik.
Dikatakan, di provinsi tersebut terdapat sejumlah kabupaten, yang selama ini dikenal sebagai sentra perkebunan karet rakyat, seperti Tebo, Muaro Bungo, Merangin, dan lainnya.
Sepanjang pantauannya, menurut Iwan, pengelolaan kebun sawit yang dialihfungsikan dari sebelumnya berupa kebun karet dilakukan petani secara mandiri. "Jarang melibatkan investor," sebutnya.
Iwan merinci dua jenis sistem alih fungsi itu. Pertama, petani pemilik kebun karet yang menebang sendiri tanaman karetnya untuk kemudian diganti dengan tanaman kelapa sawit.
Kedua, terang Iwan, petani pemilik kebun menjual lahannya ke pihak lain, dan pembeli lahan mengganti komoditi dari karet ke sawit.
Ketua Apkasindo Sebut 60 Persen Kebun Karet di Jambi Beralih Fungsi ke Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini