Pekanbaru, elaeis.co - Sawit Indonesia memang tidak pernah putus dari berbagai gangguan. Salah satunya adalah gangguan berupa kampanye negatif dari Uni Eropa. 

Memang tidak heran jika sawit terus diganggu mengingat betapa berharganya komoditas yang produksi terbesarnya ada di Indonesia itu. Bahkan muncul ungkapan 24 jam bersama sawit. Yang artinya manusia tidak pernah lepas dari produk berbahan sawit. 

Kampanye negara sawit itu terus dilakukan Uni Eropa hingga saat ini. Terakhir bahkan mengeluarkan Undang-undang deforestation yang menyinggung sawit Indonesia. 

Melihat kondisi ini, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr Gulat Medali Emas Manurung menyebutkan, saat ini Indonesia
 tidak perlu lagi melakukan perlawanan terhadap kampanye-kampanye negatif itu. 

Yang harus dilakukan, kata Auditor Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) ini adalah, hanya dengan melakukan kegiatan perkebunan dengan benar. 

"Terkait dengan kampanye negatif sawit, sebenarnya kita sudah tidak usah capek lagi untuk melakukan counter-counter itu, cukup saja kita melakukan budidaya kelapa sawit dengan baik dan benar, itu sudah termasuk dari kampanye kita melawan itu," kata Gulat kepada elaeis.co, Minggu (12/3). 

Dia mengatakan, sekeras apapun kampanye negatif sawit itu, akan kalah dengan fakta bahwa sawit itu berharga. 

Kenyataannya, sawit memang sangat dibutuhkan, bukan hanya Indonesia, tapi dunia. Sawit merupakan minyak nabati yang paling dicari untuk berbagai macam bahan pokok, mulai dari makanan, kosmetik, sabun, kosmetik dan lainnya. 

"Tidak cukup minyak sawit memenuhi kebutuhan pasar dunia. Karena ketidakcukupan itu lah kita harus merasa yakin bahwa sawit itu tidak terlepas dari kelestarian lingkungan," ujarnya.

Bahkan, lanjut Gulat, sawit yang dituduh menjadi penyebab deforestasi itu bahkan sangat bermanfaat untuk lingkungan. 

"Sawit menjadi penyelamat dunia, karena sawit itu menyerap karbondioksida dua kalo lebih besar dari tanaman lain, karena sawit termasuk dalam tanaman C4," tandasnya.