Meski gagal meraih gelar sarjana, semangatnya untuk belajar tak pernah padam. Ia bertekad agar anak-anaknya bisa menempuh pendidikan lebih tinggi. 

“Kalau saya nggak bisa kuliah, anak saya harus bisa. Sekarang dia belajar di Gontor,” ujarnya dengan mata berbinar.

Di sela-sela rutinitas sebagai pekerja rawat, Anggi meluangkan waktu mengajar Bahasa Inggris secara sukarela. 

Ia datang dari rumah ke rumah, kadang ke perumahan karyawan, bahkan ke rumah staf perusahaan. “Saya nggak minta bayaran. Kadang dikasih uang bensin, sayur, atau makanan. Itu bentuk penghargaan mereka,” tuturnya.

Anak-anak yang diajarinya kerap menunggunya meski hujan turun. “Mereka bilang, ‘Ibu pasti datang.’ Itu menyentuh hati saya,” ucapnya lembut. Bagi Anggi, pendidikan bukan soal ruang kelas, tapi soal kemauan untuk berbagi ilmu di mana pun berada.

Kini, meski kesibukannya bertambah, Anggi masih mengajar anak-anaknya di rumah sambil menjalankan usaha toko kecil. “Kalau kita bisa, itu karena kita terbiasa,” katanya penuh keyakinan.

Baginya, menjadi guru tak harus bergelar pendidik. Cukup dengan hati yang mau berbagi, seseorang bisa menyalakan cahaya ilmu bagi orang lain.