Negara menjadi ironi dan musuh baru bagi rakyatnya. Ketika ia dipimpin para penjahat dan oligarki yang menguras. Tapi beberapa tiran mampu menciptakan paradoks, jika itu pantas disebut paradoks.
Qin Shi Huang, bapak pertama dinasti Qin, adalah tukang perintah pembunuhan para sarjana yang idenya tidak dia setujui serta pembakaran habis-habisan buku-buku kritis. Namun di saat bersamaan ia menyatukan China pada 221 SM dan memerintahkan pembangunan tembok besar, secara kasar. Tanpa pria kasar, pembunuh dan tukang kebiri orang asing ini, China tak akan pernah punya Tembok Besar.
Hidup ini dikelilingi oleh paradoks. Beberapa paradoks dapat memiliki sebuah jawaban, meskipun banyak yang tetap tak terpecahkan, atau hanya terpecahkan dengan perdebatan. Paradoks cukup efektif untuk membuat kegempaan dalam pikiran. Apakah negara adalah sebuah paradoks?
Dalam kondisi faktual kita menemukan paradoks pada penarikan pajak oleh negara. Negara secara ideal bertugas untuk menjamin kesejahteraan publik. Namun di waktu bersamaan negara menarik pajak dan pungutan lainnya dari rakyat. Penarikan pajak itu berakibat kepada menurunnya kesejahteraan.
Namun sebaliknya jika negara tidak menarik pajak dan pungutan apapun, maka negara tidak bisa menjalankan fungsinya untuk menyejahterakan rakyat. Sedangkan untuk tetap menjalankan fungsi itu, negara harus menarik pajak dan biaya-biaya pelayanan.
Sama seperti paradoks abadi semisal paradoks pembohong Epimenides, paradoks Pinokio, dan paradoks grandfather, pertanyaan tersebut tidak akan terjawab sampai kita tahu untuk apa sebenarnya tarikan dan pungutan itu digunakan.
Negara Dalam Sebuah Paradoks
Diskusi pembaca untuk berita ini