Negara menjadi ironi dan musuh baru bagi rakyatnya. Ketika ia dipimpin para penjahat dan oligarki yang menguras. Tapi beberapa tiran mampu menciptakan paradoks, jika itu pantas disebut paradoks.
Negara adalah kata benda abstrak. Ia tinggal di dalam imajinasi kita. Ia dibentuk dari fantasi dan angan-angan, sebuah rumah imajiner raksasa yang dihuni bersama.
Negara dibangun dari tonggak-tonggak kecemasan dan pidato-pidato. Banyak negara dikandung di dalam rahim perang dan penjajahan, lalu lahir saat perang usai. Setiap negara lahir, ibunya mati. Negara diasuh oleh bapaknya, negara dibesarkan dengan maskulinitas, dengan kejantanan spartan untuk mengokang senjata sewaktu-waktu.
Ketika negara menjadi rumah kecemasan bersama dari anasir-anasir neo-kolonialisasi, negara bahkan menjadi musuh dalam selimut, ketika ia dipimpin oleh para tirani jahat. Negara menjadi musuh baru berikutnya.
Selama perang, diktator Paraguay, Francisco Solano Lopez (1827–1870) dan isterinya Eliza Lync telah menguras habis kekayaan negeri itu. Ia kirimkan semua cadangan kekayaan negara ke luar negeri, merampok perhiasan para wanita desa, mencaplok tanah lalu menjarah rumah dan gereja.
Presiden Republik Afrika Tengah, Jean Bedel Bokassa (1921–1996) bahkan dinobatkan sebagai salah satu tiran paling kejam di abad modern. Ratusan anak sekolah dibunuh gegara menolak mengenakan seragam yang dibuat oleh pabrik miliknya. Ia memulai pemerintahan teror, menguasai seluruh jabatan pemerintahan bagi dirinya sendiri. Bahkan ia sendiri yang mengawasi penyiksaan pengadilan.
Pada 1977, untuk menyamai idolanya Napoleon, ia mengangkat diri sendiri sebagai kaisar dari Republik Afrika Tengah dalam sebuah upacara senilai 200 juta dolar, yang langsung membangkrutkan negara itu. Bakossa menduduki singgasana dengan mahkota berlian seharga 5 juta dolar.
Negara Dalam Sebuah Paradoks
Diskusi pembaca untuk berita ini