Pemanfaatan limbah sebagai bahan baku SAF juga menjadi bagian dari konsep ekonomi sirkular. Limbah yang sebelumnya kurang bernilai dapat diolah menjadi energi bersih yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Dalam bentuk murni atau neat SAF, bahan bakar ini berpotensi mengurangi jejak karbon penerbangan hingga sekitar 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.

Selain bekerja sama dengan Boeing, Pertamina juga telah menjalankan sejumlah program pengembangan SAF. Salah satunya melalui produksi dan sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF), implementasi penggunaan SAF bersama Pelita Air, serta pengembangan proyek Cilacap Biorefinery oleh PT Pertamina Patra Niaga.

Proyek tersebut diarahkan untuk menghasilkan SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dengan memanfaatkan bahan baku minyak jelantah serta limbah berkelanjutan lainnya.

Di tingkat global, pengembangan SAF juga menjadi perhatian berbagai negara. Dewan Energi Dubai atau Dubai Supreme Council of Energy saat ini tengah menjajaki peluang produksi SAF berbasis limbah organik dari wilayah tersebut.

Langkah Dubai menunjukkan bahwa persaingan industri energi masa depan tidak hanya berfokus pada bahan bakar fosil, tetapi juga pada kemampuan negara mengembangkan energi rendah karbon.

Sementara itu, Boeing memperkirakan pertumbuhan industri penerbangan Asia Tenggara akan terus meningkat. Lalu lintas penumpang udara di kawasan tersebut diproyeksikan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun dengan kebutuhan mencapai 4.885 pesawat baru hingga 2044.

Managing Director Boeing Indonesia, Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik, Indra Duivenvoorde, menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk memimpin pengembangan penerbangan berkelanjutan di kawasan.

Menurutnya, kolaborasi dengan Pertamina akan mempercepat pengembangan ekosistem SAF, termasuk pemetaan bahan baku, teknologi, serta program edukasi dan pelatihan.

Dengan dukungan sumber daya domestik dan mitra teknologi global, Indonesia kini memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam industri SAF. 

Jika dikembangkan secara konsisten, proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka jalan bagi Indonesia menjadi salah satu pusat produksi bahan bakar penerbangan hijau dunia.