Bogor, elaeis.co -- Selama berpuluh tahun, perkebunan kelapa sawit lebih sering ditempatkan sebagai bagian dari persoalan perubahan iklim. Narasi yang berkembang hampir selalu identik dengan deforestasi, emisi karbon, hingga kerusakan lingkungan. Namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan petani swadaya justru mulai memperlihatkan potensi menjadi bagian dari solusi.
Melalui penerapan pertanian regeneratif (regenerative agriculture), petani sawit rakyat mulai mampu meningkatkan cadangan karbon organik di dalam tanah (Soil Organic Carbon/SOC). Walaupun peningkatannya masih relatif kecil dan belum signifikan secara statistik, arah perubahan yang ditunjukkan penelitian ini memberikan harapan baru bahwa perkebunan sawit rakyat dapat berkontribusi terhadap agenda mitigasi perubahan iklim.
Temuan menggembirakan ini dipaparkan Dr. Yanto Rochmayanto dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam Workshop dan Sosialisasi Hasil Kajian dan Studi bertajuk "Bagaimana Petani Swadaya Kelapa Sawit Memimpin Produksi Rendah Emisi Melalui Konservasi Hutan dan Praktik Pertanian Regeneratif". Workshop diselenggarakan Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Fortasbi) di Hotel Royal Bogor, Kamis, 25 Juni 2026.
Penelitian berjudul “Menakar Kontribusi Petani Swadaya dalam Mitigasi Perubahan Iklim Melalui Skema Pertanian Regeneratif” ini dilakukan bersama anggota tim peneliti lainnya—Dr. E. Panca Pramudya, dan Donny Wicaksono, M.Sc.-- pada kebun petani swadaya di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dan Kabupaten Tebo, Jambi, pengujung tahun silam.
Yanto menjelaskan, konsep pertanian regeneratif bukan sekadar mempertahankan kondisi lahan agar tetap lestari sebagaimana konsep keberlanjutan (sustainability), tetapi berupaya memulihkan fungsi ekologis tanah sehingga kondisinya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dalam pendekatan tersebut, kesehatan tanah menjadi titik perhatian utama. Berbagai bahan organik seperti kompos, pupuk kandang maupun tandan kosong kelapa sawit (tankos) dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas organisme tanah, sekaligus memperbesar kemampuan tanah menyimpan karbon.
"Pertanyaan yang ingin kami jawab sederhana, sejauh mana pertanian regeneratif mampu meningkatkan karbon organik tanah, dan apa tantangan yang dihadapi petani dalam mengadopsinya," ujar Dr. Yanto Rochmayanto.
Acara workshop dan sosialiasi sesi kedua yang juga lebih berwujud diskusi ini dipandu dengan baik sekali oleh Roestanto Suprapto dari WRI Indonesia, menampilkan penanggap Lisma Safitri dari Instiper Yogyakarta, dan Dani Rahadian (Oil Palm Advisor SNV Indonesia). Acara diikuti peserta dari kalangan akademisi, asosiasi petani dan koperasi, NGO, serta pihak perusahaan. Turut hadir, Rukaiyah Rafik, Kepala Sekretariat Fortasbi.
Baca juga https://www.elaeis.co/berita/baca/konservasi-berbasis-petani-hutan-larangan-ketapang-menepis-stigma-sawit
Karbon tanah mulai meningkat
Penelitian membandingkan kebun yang menerapkan pertanian regeneratif dengan kebun konvensional. Sampel tanah diambil dari dua lokasi penelitian menggunakan metode laboratorium untuk mengukur Bulk Density (BD), kandungan karbon organik (C-Organic), hingga Soil Organic Carbon (SOC).
Hasilnya menunjukkan kecenderungan yang konsisten. Pada kedua lokasi penelitian, lahan yang menerapkan pertanian regeneratif memiliki kandungan karbon organik tanah yang lebih tinggi dibandingkan kebun konvensional. Di Sumatera Utara, peningkatan SOC mencapai sekitar 6,03 persen, sedangkan di Jambi sekitar 2,09 persen.

Secara ilmiah, peningkatan tersebut setara dengan tambahan 1,35–2,35 ton karbon organik tanah per hektare, atau setara pengurangan emisi sekitar 4,94–8,62 ton CO₂ ekuivalen per hektare. Walaupun demikian, hasil uji statistik menunjukkan perbedaan tersebut belum signifikan.
Dr. Yanto menegaskan, kondisi itu bukan berarti pertanian regeneratif gagal memberikan dampak. "Tidak signifikan bukan berarti tidak ada perubahan. Arahnya sudah positif, hanya saja praktik regeneratif yang kami teliti baru berjalan sekitar satu hingga dua tahun sehingga perubahan karbon tanah memang belum cukup besar," jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa perubahan kandungan karbon tanah memang membutuhkan waktu panjang. Berbagai penelitian internasional menunjukkan peningkatan karbon organik umumnya baru terlihat nyata setelah praktik regeneratif diterapkan secara konsisten selama bertahun-tahun.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Dr. Lisma Safitri, peneliti di bidang climate smart agriculture, yang menilai hasil penelitian ini justru menunjukkan karakter alami perubahan karbon tanah. Menurutnya, peningkatan karbon organik memang tidak dapat dinilai hanya dalam waktu satu atau dua tahun.
"Banyak literatur menunjukkan bahwa perubahan karbon organik tanah baru terlihat dalam jangka panjang. Karena itu penelitian seperti ini sangat penting untuk terus dilanjutkan agar kita memperoleh bukti ilmiah yang lebih kuat mengenai dampak pertanian regeneratif," ujar Lisma.
Ia mengingatkan pula agar hasil penelitian tidak ditafsirkan secara berlebihan. Menurutnya, fakta bahwa peningkatan karbon tanah belum signifikan secara statistik bukan berarti pendekatan pertanian regeneratif gagal, melainkan menunjukkan bahwa proses pemulihan tanah memang membutuhkan waktu yang panjang.
Belum saatnya menggantikan pupuk kimia
Salah satu pertanyaan yang paling banyak muncul selama diskusi adalah apakah pupuk organik nantinya mampu menggantikan pupuk kimia. Pertanyaan tersebut dinilai sangat wajar mengingat produktivitas tetap menjadi prioritas utama petani.
Namun hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap sekarang, pertanian regeneratif masih berfungsi sebagai pelengkap, bukan pengganti pupuk kimia. Saat ini pertanian regeneratif masih berada pada fase transisi. Pupuk organik berfungsi memperbaiki kesehatan tanah, sedangkan pupuk kimia masih diperlukan untuk menjaga produktivitas tanaman.

Menurut Yanto, pupuk organik bekerja jauh lebih lambat dibandingkan pupuk kimia.Respons tanaman terhadap pupuk organik baru terlihat setelah beberapa bulan, sementara petani terbiasa melihat perubahan tanaman dalam waktu relatif singkat setelah aplikasi pupuk kimia.
Karena itu, proses menuju sistem budidaya yang lebih regeneratif memerlukan waktu, kesabaran, serta pendampingan yang berkelanjutan. Di sisi lain, tanah juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi setelah bertahun-tahun menerima pupuk kimia.
Penelitian juga menemukan perbedaan menarik antara berbagai jenis bahan organik yang digunakan petani. Di Jambi, penggunaan tandan kosong kelapa sawit (tankos) menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan penggunaan pupuk kandang (kohe) dalam meningkatkan kandungan karbon organik tanah.
Temuan tersebut membuka peluang pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit sebagai bagian dari ekonomi sirkular di sektor perkebunan. Menurut Yanto, pemanfaatan kembali limbah organik menjadi salah satu prinsip penting pertanian regeneratif. Selain mengurangi limbah, pendekatan tersebut juga mampu memperbaiki kualitas tanah secara bertahap.
Bagi Indonesia, hasil penelitian ini memiliki arti strategis. Selama ini kontribusi penurunan emisi sektor pertanian lebih banyak dihitung dari subsektor tanaman pangan maupun peternakan. Padahal, dengan luas perkebunan sawit rakyat yang mencapai jutaan hektare, penerapan pertanian regeneratif berpotensi memberikan tambahan kontribusi terhadap target penurunan emisi nasional.
"Kalau praktik seperti ini diterapkan secara luas pada jutaan hektare kebun sawit rakyat, akumulasi penurunan emisinya akan menjadi sangat besar," kata Dr. Yanto. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa keberhasilan pertanian regeneratif tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Ketersediaan bahan organik, biaya aplikasi, akses pembiayaan, pendampingan petani, hingga dukungan kebijakan pemerintah akan menjadi faktor penentu keberhasilannya.
Perjalanan masih panjang
Pandangan serupa disampaikan Dani Rahadian dari SNV Indonesia. Menurutnya, hasil penelitian ini perlu dibaca sebagai proses perubahan yang sedang berlangsung, bukan sebagai hasil akhir dari penerapan pertanian regeneratif. Ia menilai perubahan terbesar yang terjadi saat ini justru berada pada tingkat perilaku petani.
"Yang paling sulit sebenarnya bukan mengubah tanah, tetapi mengubah cara berpikir petani. Ketika petani mulai memahami pentingnya kesehatan tanah, sesungguhnya fondasi menuju pertanian regeneratif sudah mulai terbangun," ujarnya.
Dani mengingatkan bahwa sebagian besar petani yang menjadi objek penelitian masih berada pada fase awal adopsi. Penggunaan pupuk organik masih bersifat pelengkap, frekuensi aplikasinya belum optimal, sementara manfaat biofisik seperti peningkatan karbon tanah memang memerlukan waktu lebih panjang untuk muncul.
Karena itu, menurutnya, fokus berikutnya bukan lagi membuktikan apakah pertanian regeneratif bekerja atau tidak, melainkan mempercepat adopsinya melalui penyediaan bahan organik, model bisnis yang layak, pendampingan, serta insentif ekonomi bagi petani.
Kalau petani melihat ada manfaat ekonomi yang nyata, kata Dani, adopsi akan meningkat. Ketika adopsi meningkat, dampak terhadap kesehatan tanah maupun penurunan emisi akan mengikuti dengan sendirinya.
Penelitian ini memang belum memberikan jawaban akhir mengenai efektivitas pertanian regeneratif. Sebaliknya, hasil tersebut justru menjadi titik awal untuk memahami bagaimana petani swadaya dapat mengambil peran lebih besar dalam agenda pembangunan sawit rendah emisi. Masih diperlukan penelitian jangka panjang untuk mengetahui dampaknya terhadap produktivitas, kesehatan tanah, serta penyerapan karbon dalam skala yang lebih luas.
Namun di sini satu hal mulai terlihat dengan jelas.Petani sawit rakyat terbukti tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai pihak yang menghasilkan emisi. Dengan praktik budidaya yang tepat, mereka justru memiliki peluang menjadi aktor penting dalam memulihkan kualitas tanah sekaligus membantu Indonesia mencapai target pengurangan emisi karbon.-
Pertanian Regeneratif Membuka Jalan Baru Mitigasi Perubahan Iklim dari Kebun Sawit Rakyat
Diskusi pembaca untuk berita ini