Karang Baru, elaeis.co – Kecamatan Karang Baru yang menjadi ibu kota Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, belum merasakan pemerataan pembangunan. Saat ini masih banyak jalan desa hanya beralas tanah dan bebatuan. 

Hal itu Diungkapkan Camat Karang Baru, Fakhrurrazi Syamsuyar, saat kunjungan kerja Pj Bupati Aceh Tamiang, Asra.

“Ada beberapa wilayah, terutama sisi barat Karang Baru, belum tersentuh pengaspalan sejak Indonesia merdeka. Padahal dikelilingi hak guna usaha (HGU) perkebunan sawit," katanya dalam keterangan resmi dikutip Kamis (11/1).

"Meskipun ada keterbatasan keuangan, kami berharap pak bupati bisa memprioritaskan pembangunan jalan melalui dana APBD 2024 atau mungkin pengajuan di tahun anggaran 2025,” sambungnya.

Di kesempatan yang sama, Kepala Mukim Simpang Empat Upah, Muhammad Ridwan, mengingatkan kembali kepada Pj Bupati Aceh Tamiang atas usulan masyarakat dari sejumlah desa terkait perjuangan pelepasan HGU perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk kepentingan fasilitas umum.

Menurutnya, sebagian perusahaan tidak merealisasikan janji melepas HGU untuk membangun kantor datok penghulu, sarana olah raga dan keperluan masyarakat lainnya

“Kebetulan di Karang Baru ini sedang ada perpanjangan HGU, ada usulan perangkat kampung untuk fasilitas umum yang sampai sejauh ini masih dalam perjuangan. Kami berharap Pj Bupati supaya dapat membantu penyelesaian permohonan desa kepada pihak perusahaan,” katanya.

Janji penyerahan HGU untuk fasilitas umum sebelumnya tercapai setelah Forum Datok Penghulu Karangbaru bersama sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit dimediasi DPRK Aceh Tamiang. “Tapi masih ada perusahaan yang tidak menepati janji,” sesalnya.

Menanggapi hal ini, Pj Bupati Aceh Tamiang, Asra langsung meminta Fakhrurrazi menyusun jadwal pertemuan dengan pemegang HGU. “Ini tugas kita pak Camat, bukan tugas pak Datok lagi, kapan pun saya siap,” katanya.

Dia juga mengingatkan perusahaan sawit di Aceh Tamiang memperhatikan kondisi jalan karena kerusakan yang terjadi dominan akibat armada angkutan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit, baik milik perusahaan perkebunan maupun perorangan atau kebun pribadi.

“Penyumbang terbesar kerusakan jalan ialah kelapa sawit. Jangan kesannya hanya cari untung di sini, tapi masyarakat tidak dipedulikan,” tegasnya.

"Perusahaan jangan terus mengeluhkan kasus pencurian kelapa sawit kalau kepedulian terhadap masyarakat masih minim. “Pencuri ini beda dengan ninja sawit, kalau ninja dalam skala besar, kalau mencuri hanya untuk makan," tambahnya.

Dia mengaku tidak tutup mata atas kerusakan jalan di Aceh Tamiang. "Ini tidak bisa kita bohongi. Saya baru ke Desa Bikut Panjang menghadiri acara maulid, banyak jalan rusak dan rata-rata penyebabnya adalah truk sawit," sebutnya.

"Tapi hilir mudik kendaraan muatan TBS itu tidak boleh diportal dipalang, karena akan berdampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat," imbuhnya.