“Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat berbasis kelapa sawit yang terbukti memberikan kinerja setara dengan bahan bakar penerbangan berbasis fosil namun dengan emisi karbon yang lebih rendah,” paparnya.

Di sektor kilang, Pertamina terus mengembangkan Bio Refinery di Cilacap yang telah berhasil memproduksi Bioavtur dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) dengan kapasitas 2.500 – 3.000 barel per hari dan akan ditingkatkan menjadi 6.000 barrel per hari.

Dalam waktu dekat, Kilang Plaju juga akan menyusul dengan produksi BioAvtur dari minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dengan kapasitas lebih tinggi yakni hingga 20.000 barel per hari. 

“Dengan dukungan stakeholder, Pertamina berkomitmen akan terus menjadi pilar transisi energi di Indonesia sejalan dengan tren dunia,” tukasnya.

Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina, Atep Salyadi Dariah Saputra menambahkan, Pertamina menargetkan pengurangan Karbon Dioksida (CO2) hingga 81,4 juta ton pada tahun 2060.

“Dekarbonisasi bisnis dilakukan melalui efisiensi energi, peningkatan kapasitas pembangkit listrik ramah lingkungan, pengurangan loss, elektrifikasi armada dan peralatan statik, penangkapan dan penyimpanan karbon (penggunaan sendiri), serta menggunakan armada dengan bahan bakar rendah atau nol karbon,” pungkasnya.