Jakarta, elaeis.co – Industri kelapa sawit Indonesia kembali mendapat angin segar. Riset terbaru yang dilakukan tim peneliti pimpinan Dr. Ir. Heru Bagus Pulunggono, M.Agr.Sc. mengungkap fakta mengejutkan, emisi netto perkebunan sawit di lahan gambut ternyata jauh lebih rendah dibanding tuduhan yang selama ini ramai digaungkan di level global.
Temuan ini langsung menjadi sorotan karena dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi kampanye negatif terhadap komoditas sawit di pasar internasional.
Penelitian multilokasi tersebut dilakukan di sejumlah wilayah lahan gambut Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan dan Kabupaten Hulu Sungai Utara. Fokus utamanya adalah mengukur secara langsung emisi gas rumah kaca dari lahan gambut yang digunakan untuk budidaya kelapa sawit.
Hasil sementara riset menunjukkan angka fluks karbon dioksida (CO2) netto rata-rata hanya sebesar 0.0078±0.0160 megagram per hektare per jam. Angka itu disebut jauh berada di bawah basis data emisi yang selama ini digunakan oleh Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau US-EPA.
Temuan tersebut menjadi pukulan telak terhadap berbagai tudingan yang menyebut perkebunan sawit Indonesia sebagai penyebab utama emisi karbon tinggi dan kerusakan lingkungan global.
“Data lapangan menunjukkan kondisi riil emisi sawit Indonesia ternyata jauh lebih rendah dibanding asumsi yang selama ini digunakan secara global,” ungkap tim peneliti dalam rilis yang dikutip dari BPDP, Selasa (19/5).
Penelitian ini dilakukan menggunakan teknologi Eddy Covariance System (LI-7500), sebuah alat pemantau modern yang dipasang di menara setinggi 15 meter di area perkebunan. Pengukuran dilakukan otomatis setiap 30 menit untuk memastikan data yang diperoleh benar-benar akurat dan real time.
Dari hasil pemantauan, tim peneliti menemukan bahwa proses sekuestrasi karbon atau penyerapan karbon pada siang hari mencapai 0.0025±0.0160 megagram CO2 per hektare per jam. Sementara emisi karbon pada malam hari tercatat sebesar 0.0182±0.0058 megagram CO2 per hektare per jam.
Tak hanya itu, penelitian juga mengukur respirasi heterotrofik atau proses dekomposisi gambut yang menghasilkan emisi karbon. Angkanya berada di level 3.34 megagram CO2 per hektare per bulan.
Riset Terbaru Ungkap Emisi Netto Sawit RI Jauh Lebih Rendah dari Tuduhan Global
Diskusi pembaca untuk berita ini