Kalau sekarang kata politisi PAN ini, jika harga TBS di pagi hari naik maka bisa juga akan turun pada malam harinya. Karena tidak ada kepastian harga. Memang saat ini harga hasil penetapan sudah cukup baik di atas Rp2000/kg.

Ia berharap, agar harga TBS petani swadaya disesuaikan dengan rendemen, mutu dan kualitas. Pemerintah tentu harus hadir di tengah kondisi petani yang seperti ini.

Kemudian, yang membuat petani Pesisir Selatan gelisah lagi kata Novermal, dari 5 pabrik kelapa sawit (PKS) yang ada di wilayah itu, hanya 3 pabrik yang mau membeli TBS petani. Sementara dua pabrik lainnya yakni anak perusahan PT Incasi Raya Group (IRG), masih enggan membeli TBS petani dengan alasan mesin operasional rusak.

Anehnya hingga kini, dua PKS itu tetap beroperasi. "Pada RDP kedua perwakilan PKS itu mengatakan sudah lama tidak membeli TBS petani. Namun dari informasi yang kita dapat, dua PKS ini dikabarkan sempat membeli TBS petani dengan harga di bawah Rp1.000/kg," bebernya.

Akibat ulah perusahaan ini, akhirnya petani harus mengirim hasil kebunnya dengan jarak sekitar 40 kilometer ke arah Sijunjung dan Pasaman. 

"Mereka beroperasi untuk kebunnya sendiri," imbuhnya.

Sementara, menanggapi tudingan itu Dirut PT IRG, Zainal Arifin menjelaskan bahwa memang benar dua PKS tersebut tidak membeli TBS petani. Sebab mesin pengolahan atau boiler PKS mengalami kerusakan.

"Kalau membeli dengan harga rendah itu tidak benar. Padahal kami juga menghadirkan PKS ditepi jalan itu sebagai Transpo Energy untuk membantu masyarakat. Tapi kita tidak tau siapa yang membuat berita bohong ini sampai seperti saat ini," katanya.