Jambi, elaeis.co Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menunjukkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan di Provinsi Jambi. Kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga mulai berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat melalui kabut asap yang semakin tebal dan mengganggu aktivitas warga.

Di tengah situasi tersebut, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi bersama 15 organisasi mendirikan Posko Darurat Karhutla sebagai bentuk respons cepat sekaligus solidaritas dan keberpihakan terhadap keselamatan rakyat serta lingkungan.

Posko tersebut menjadi ruang untuk menghimpun informasi terkait kejadian karhutla, menerima laporan masyarakat, memantau kondisi di lapangan, serta mendokumentasikan dampak kebakaran dan kabut asap yang dirasakan warga.

WALHI Jambi menegaskan bahwa pendirian posko merupakan bentuk kehadiran masyarakat sipil dalam merespons situasi karhutla. Posko ini dibentuk untuk melakukan pemantauan, pengumpulan informasi, menerima pengaduan masyarakat, mendokumentasikan kejadian karhutla, serta mendorong respons cepat pemerintah dan pihak terkait terhadap titik-titik kebakaran.

Selain itu, WALHI Jambi mendesak pemerintah memastikan masyarakat terdampak mendapatkan perlindungan, akses terhadap layanan kesehatan, informasi kualitas udara yang transparan, serta jaminan keselamatan bagi kelompok rentan.

Penegakan hukum secara tegas terhadap korporasi yang terbukti menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan juga dinilai penting agar persoalan karhutla tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Berdasarkan hasil pemantauan, tercatat 99 titik panas (hotspot) pada Minggu (30/8/2026). Sementara itu, sedikitnya 2.333 hektare lahan telah terbakar dalam kurun waktu Januari hingga Agustus 2026.

WALHI Jambi menilai angka tersebut menjadi bukti nyata atas kegagalan negara dalam melindungi keselamatan rakyat dan lingkungan hidup dari bencana ekologis.

Sebelumnya, pada April 2026, WALHI Jambi telah memberikan imbauan terkait potensi kebakaran hutan dan lahan karena menghadapi fenomena Gozilla El Nino. WALHI Jambi juga melakukan pemantauan dan deteksi dini untuk memetakan wilayah rawan karhutla serta titik-titik kebakaran berulang.

Tidak hanya melakukan pemantauan, WALHI Jambi juga melakukan penguatan kepada warga dampingan untuk mendorong keterlibatan masyarakat desa dalam pemantauan dan pelaporan kebakaran. Masyarakat didorong menjadi mata dan telinga dalam upaya deteksi dini karhutla.

Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, mengatakan karhutla semakin meluas, sementara kabut asap semakin tebal dan masyarakat dipaksa hidup dalam ancaman bencana ekologis.

Menurut Oscar, keberadaan Posko Darurat Karhutla merupakan bentuk teguran keras bahwa situasi karhutla membutuhkan penanganan yang serius, cepat, transparan, dan terukur.

WALHI Jambi menegaskan bahwa kabut asap bukan konsekuensi yang harus diterima masyarakat setiap musim kemarau. Menurut WALHI, persoalan tersebut merupakan masalah ekologis sekaligus persoalan perlindungan keselamatan rakyat yang harus ditangani hingga ke akar masalah.

"Rakyat berhak menghirup udara bersih, bukan menghirup asap dari kegagalan pengelolaan lingkungan," pungkas Oscar Anugrah.