Lichwan menilai workshop yang digelar Huawei, PT LAPP, dan Majalah Sawit Indonesia dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan riil perusahaan dengan perkembangan teknologi energi.
Menurutnya, forum tersebut jangan berhenti pada diskusi. Harus ada solusi yang bisa diuji langsung di lapangan, termasuk melalui proyek percontohan atau pilot project.
Ada tiga hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut, yakni wawasan yang aplikatif, model implementasi yang realistis, serta peluang menjalankan proyek percontohan.
“Workshop ini menjadi momentum penting untuk menjembatani gap antara teknologi dan kebutuhan lapangan, memberikan data dan studi kasus nyata, serta membuka ruang diskusi yang konstruktif antara pelaku usaha dan penyedia solusi,” jelas Lichwan.
Bagi GAPKI, transformasi energi bukan sekadar mengganti sumber energi. Penerapan teknologi harus berdampak langsung terhadap efisiensi industri.
Lichwan menyebut tiga manfaat utama yang diharapkan, yaitu meningkatkan efisiensi, menurunkan biaya produksi, dan memperkuat daya saing sawit Indonesia di pasar global.
Namun, transformasi energi membutuhkan dukungan ekosistem. Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan teknologi yang tepat, skema pembiayaan yang masuk akal, serta kebijakan yang mendukung investasi energi terbarukan.
“Namun tentu, kami juga berharap adanya dukungan ekosistem baik dari sisi teknologi, pembiayaan, maupun kebijakan,” pungkasnya.
Biaya Diesel Bikin Tekor, GAPKI Riau Dorong Kebun Sawit Beralih ke Solar System
Diskusi pembaca untuk berita ini