Pekanbaru, elaeis.co – Biaya operasional yang tinggi akibat ketergantungan pada bahan bakar diesel membuat sektor perkebunan sawit mulai melirik sumber energi alternatif. 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau mendorong pemanfaatan solar system untuk menekan biaya sekaligus memperkuat keberlanjutan perkebunan.

Ketua GAPKI Riau, Lichwan Hartono, mengatakan kebutuhan terhadap sumber energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan semakin mendesak. Terutama bagi perkebunan yang berada di wilayah terpencil dan masih mengandalkan diesel untuk menjalankan operasional.

“Kita semua memahami bahwa operasional perkebunan, khususnya di wilayah terpencil, masih sangat bergantung pada energi berbasis diesel,” kata Lichwan dalam acara The Plantation Workshop: Future Energy for Sustainable Plantation di The ZHM Premiere Hotel & Convention Pekanbaru, Rabu (19/8).

Menurut Lichwan, ketergantungan terhadap diesel membawa sejumlah konsekuensi. Selain biaya operasional yang tinggi dan tidak stabil, pasokan energi juga belum selalu andal. Pada saat yang sama, perusahaan perkebunan menghadapi tuntutan untuk menekan emisi dan menjalankan prinsip keberlanjutan.

Karena itu, energi terbarukan seperti tenaga surya dan sistem microgrid dinilai semakin relevan untuk diterapkan di lingkungan perkebunan.

Meski mendorong transformasi energi, GAPKI mengingatkan perusahaan agar tidak terburu-buru mengadopsi teknologi hanya karena sedang menjadi tren.

Lichwan menegaskan, teknologi energi baru harus memberikan manfaat nyata dari sisi keekonomian maupun operasional. Setidaknya ada tiga pertanyaan yang harus dijawab sebelum perusahaan melakukan investasi.

Pertama, apakah investasi tersebut layak secara finansial. Kedua, apakah teknologi mampu bekerja secara andal di lapangan. Ketiga, apakah sistem tersebut mudah dikembangkan atau scalable untuk kebutuhan perkebunan yang lebih luas.

“Adopsi teknologi bukan sekadar tren, tetapi harus memberikan nilai nyata—baik dari sisi keekonomian maupun operasional,” tegasnya.