Jakarta, elaeis.co – Kenaikan harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah mulai berdampak pada pasar minyak goreng dalam negeri. 
Menteri Perdagangan Budi Santoso (Busan) mengaku bahwa minyak goreng rakyat merek MinyaKita kini mulai mengalami kelangkaan di sejumlah daerah.
Menurut Mendag, kondisi tersebut dipicu oleh gangguan distribusi dan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap produk subsidi tersebut. 
MinyaKita yang merupakan bagian dari kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) sejatinya ditujukan untuk masyarakat menengah ke bawah dengan harga terjangkau.
“Memang peruntukannya seperti itu, tapi di lapangan permintaan cukup tinggi karena masyarakat menilai kualitasnya hampir setara dengan minyak goreng komersial,” ujar Budi Santoso, Minggu (10/5).
Selain faktor distribusi, pemerintah juga menyoroti adanya pergeseran alokasi pasokan MinyaKita ke beberapa wilayah, termasuk Papua, yang turut memengaruhi ketersediaan di daerah lain.
Di sisi lain, lonjakan harga CPO global turut memberikan tekanan terhadap biaya produksi minyak goreng di dalam negeri. Kenaikan harga bahan baku tersebut disebut berdampak langsung pada rantai pasok MinyaKita.
Tidak hanya itu, biaya logistik dan distribusi yang meningkat juga menjadi salah satu faktor yang tengah dievaluasi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan.
Kementerian Perdagangan saat ini juga tengah mengkaji kemungkinan penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita yang sudah tidak berubah selama hampir tiga tahun. Namun, keputusan tersebut masih dalam tahap pembahasan dan belum ditetapkan secara final.
“Semua masih dalam kajian. Kami tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat sebelum mengambil keputusan,” tambah Mendag.