“Mikoriza terbagi menjadi 2 kelompok besar yaitu ektomikoriza dan endomikoriza. Ektomikoriza memiliki kemampuan adaptasi dengan tanaman cukup terbatas, terutama hanya pada tanaman hutan.  Sedangkan endomikoriza cukup banyak mendapat perhatian karena penyebarannya lebih luas serta dapat berasosiasi dengan hampir 90% spesies tanaman tingkat tinggi,” tambahnya.

Endomikoriza terbagi dalam enam subtipe yaitu Ektendomikoriza, Arbutoid, Monotropoid, Ericoid, Orchid  dan Vesikula–arbuskula mikoriza atau disebut juga dengan fungi mikoriza arbuskula (FMA). Dari keenam subtipe tersebut, FMA merupakan kelompok yang paling luas penyebarannya dan mempunyai kemampuan berasosiasi paling tinggi dengan berbagai jenis tanaman.

Struktur utama dari FMA terdiri dari spora, hifa, arbuskula dan vesikula. Spora yang terbentuk pada ujung hifa, adalah salah satu struktur FMA yang cukup penting dalam proses reproduksi, juga  merupakan bagian utama yang diamati dalam proses identifikasi. Selain itu hifa atau miselia berbentuk benang halus, berperan dalam proses penyerapan hara, hidup di luar maupun di dalam jaringan akar tanaman.

Arbuskula adalah struktur hifa yang bercabang-cabang seperti pohon kecil di dalam sel korteks akar inang yang berfungsi sebagai tempat pertukaran zat-zat metabolit primer antara fungi mikoriza dan akar tanaman. Vesikula adalah struktur pembengkakan hifa berdinding tebal, mengandung lipid, terbentuk di dalam sel korteks akar.

Terkait asosiasi FMA dengan tanaman, secara umum hifa fungi ini melakukan penetrasi ke dalam akar   melalui sel epidermis. Apresorium adalah titik tempat masuknya hifa ke dalam akar melalui celah antar sel epidermis, kemudian membentuk hifa intraseluler dan interseluler di dalam jaringan akar.

Irwan menjelaskan, cara untuk mendapatkan FMA dari alam (FMA indigenous) adalah dengan metoda “trapping”. Tanah  diambil dari daerah perakaran tanaman atau dapat juga disertakan akarnya kemudian dimasukkan ke dalam pot. Dapat juga dicampur dengan pasir atau zeolite yang telah disterilisasi. Selanjutnya dilakukan penanaman tanaman inang seperti jagung, sorgum atau Pueraria sp.

Setelah masa tanam sekitar 3 bulan akan terbentuk spora (sporulasi). Untuk mendapatkan spora tersebut dilakukan dengan cara penyaringan basah (wet sieving). Setelah spora diperoleh, dilakukan pengamatan secara mikroskopis, biasanya spora yang didapatkan terdiri dari berbagai jenis. Untuk tahap pemurnian, dapat dilakukan dengan cara  perbanyakan melalui single spora.

“Formulasi pupuk hayati berbahan aktif FMA dapat dibuat dalam bentuk granular serta tablet. Namun, terkait dalam hal pemasaran, kedua bentuk produk pupuk hayati tersebut belum banyak beredar di pasaran Indonesia. Penggunaan pupuk hayati bermikoriza ini akan sangat menguntungkan bagi petani, produsen benih hortikultura, perusahaan HPH dan HTI, perkebunan kelapa sawit, kopi, karet, kakao dan lain-lain,” imbuh Irwan.

Dia menambahkan bahwa unit-unit usaha ataupun pelaku agribisnis merupakan peluang yang besar bagi pemasaran produk pupuk hayati fungi mikoriza. Dengan begitu unit produksi pupuk hayati bermikoriza mempunyai potensi komersial untuk dikembangkan guna menunjang pertumbuhan tanaman yang sehat, kemudian secara ekonomis lebih hemat dan berwawasan lingkungan.

"Ditambah lagi dengan ketersediaan bahan baku utama dalam proses pembuatan inokulum FMA berupa pasir zeolite dan pasir sungai, tersedia cukup banyak dan murah," pungkasnya.