Bandar Lampung, elaeis.co -  Karyawan PTPN VII dan mitra kerja atau vendor diminta menjunjung tinggi prinsip-prinsip kejujuran dalam menjalankan usaha agar tidak tersandung masalah hukum. 

Pesan Direktur PTPN VII Ryanto Wisnuardhy itu disampaikan oleh SEVP Operation I Budi Susilo saat memberikan pembekalan 'Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) Mewujudkan Budaya Anti Korupsi di Perusahaan' di Kantor Direksi PTPN VII, Bandar Lampung, Lampung. Kegiatan ini diikuti seluruh rekanan rekanan atau vendor PTPN VII dan puluhan karyawan PTPN VII. Sedangkan para asisten yang bertugas di Unit Kerja di wilayah Lampung, Sumatera Selatan, dan Bengkulu, mengikuti secara virtual.

Dia mengatakan bahwa proses bisnis yang dijalankan secara fair dan jujur akan membuat hati tenang dan kinerja perusahaan tumbuh subur secara alamiah.

“Teknologi kejahatan akan selalu selangkah lebih maju dibanding teknologi pengamanan. Tetapi ketahuilah bahwa tidak ada kejahatan yang sempurna. Kebohogan itu beranak-pinak. Kebohongan satu akan melahirkan kebohongan baru sampai kebohongan itu terbongkar. Kita bisa membohongi semua orang, tetapi tidak bisa bohong kepada hati nurani sendiri," jelasnya melalui keterangan resmi Humas PTPN VII.

Para mitra kerja atau rekanan perusahaan diingatkan untuk tidak menggoda karyawan PTPN VII agar berbuat curang.

“Saya memberikan warning kepada tim saya di internal PTPN VII, tetapi juga mengingatkan kepada mitra kerja sebagai rekanan atau vendor untuk tidak menggoda dengan berbagai iming-iming. Kami sudah komitmen dan mengantongi sertifikat ISO 37001/2016 yang menutup berbagai upaya penyuapan. Kita juga bekerja sama secara intensif dengan KPK untuk berbagai upaya pencegahan,” sebutnya.

Sebagai entitas bisnis, PTPN VII tidak bisa lepas dari mitra kerja atau rekanan. Selain karena memang saling membutuhkan, regulasi pemerintah juga sudah mengatur secara mengikat untuk dilakukan kerja sama dengan pihak lain dalam banyak pekerjaan.

Namun demikian, ia meminta kepada rekanan dan juga tim di internal PTPN VII untuk tidak memanfaatkan posisi ini sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan pribadi secara tidak sah. Sebab, kata dia, jika ada oknum-oknum yang saling mempengaruhi untuk melakukan penyimpangan, maka korbannya adalah semua elemen, baik di internal maupun rekanan.

“Banyak sekali cabang ilmu ekonomi yang kita kenal dan pelajari, tetapi ilmu tertinggi dalam bisnis adalah kejujuran,” ujarnya.