Dari unsur TNI, hadir Danramil 04/Perawang, Kapten Inf. Ayub Edi Harahap, Kalaksa BPBD Siak Novendra Kasmara, Camat Koto Gasib Wendy, Kapolsek Kerinci Kanan AKP Albert Sitompul, para penghulu, Bhabinkamtibmas, Babinsa, Manggala Agni, MPA binaan PT KTU, serta jajaran manajemen dan staf PT KTU.

Dalam amanatnya, Kapolres Siak menekankan bahwa apel kesiapsiagaan merupakan penanda kesungguhan seluruh unsur, TNI/Polri, pemerintah daerah, masyarakat dan perusahaan dalam mencegah dan menanggulangi karhutla.

“Kita juga harus meningkatkan koordinasi antara jajaran pemerintahan, dunia usaha dan masyarakat, agar langkah kita untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya,” demikian amanat Kapolres yang dibacakan Wakil Bupati Siak.

Data yang disampaikan dalam amanat tersebut menunjukkan bahwa sepanjang Agustus 2026, karhutla telah terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Siak. Kebakaran di Kampung Bunsur seluas sekitar 7 hektare, Kampung Mengkapan sekitar 0,5 hektare, dan Kampung Penyengat sekitar 6 hektare telah berhasil dipadamkan. Sementara penanganan masih dilakukan di wilayah Kecamatan Koto Gasib dan Kecamatan Dayun.

Karena itu, apel kali ini tidak berhenti pada seremoni. Setelah pemeriksaan pasukan dan pembacaan ikrar kesiapsiagaan pencegahan karhutla, kegiatan dilanjutkan dengan pengecekan sarana dan prasarana, serta simulasi pemadaman kebakaran.

Administratur PT KTU, Teddy Yohendra Siregar, mengatakan kesiapsiagaan harus dibangun sebelum api muncul. 

Menurutnya, perusahaan terus memastikan personel, sarana dan prasarana, sistem pemantauan, serta koordinasi dengan berbagai pihak dalam kondisi siap untuk digunakan sewaktu-waktu.

“Bagi kami, kesiapsiagaan bukan hanya tentang bagaimana memadamkan api ketika kebakaran terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mencegahnya sejak awal, mendeteksi lebih cepat, dan memastikan ketika ada indikasi kebakaran, seluruh unsur bisa bergerak bersama. Karena itu kami terus memperkuat personel, sarana-prasarana, masyarakat dan koordinasi dengan para stakeholder,” ujar Teddy.

Menurutnya, upaya pencegahan karhutla tidak dibatasi hanya pada areal perusahaan. Ketika terjadi indikasi kebakaran di luar wilayah operasional, perusahaan juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membantu sesuai kapasitas dan kebutuhan di lapangan.

Salah satu upaya yang terus dilakukan PT KTU adalah memanfaatkan teknologi untuk memperkuat deteksi dini. Perusahaan turut memantau titik hotspot melalui Dashboard Lancang Kuning Polda Riau.