Jakarta, elaeis.co – Limbah industri yang selama ini dianggap tidak bernilai, kini justru membuka peluang ekonomi baru bernilai tinggi. 

Mahasiswa Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) berhasil menemukan metode inovatif untuk mengubah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan residu bauksit (red mud) menjadi sumber ekstraksi skandium, salah satu logam tanah jarang bernilai sangat tinggi di pasar global.

Inovasi ini tidak hanya menjawab persoalan limbah industri, tetapi juga membuka potensi besar Indonesia dalam rantai pasok material strategis dunia, khususnya untuk industri teknologi tinggi seperti dirgantara, energi terbarukan, hingga manufaktur canggih.

Dalam riset tersebut, TKKS yang selama ini hanya menjadi limbah perkebunan kelapa sawit dimanfaatkan sebagai reduktor ramah lingkungan dalam proses ekstraksi skandium dari red mud, residu industri pengolahan bauksit.

Pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan dibanding metode konvensional yang cenderung menghasilkan emisi tinggi dan limbah tambahan.

Tim peneliti FTUI yang terdiri dari Josafat Pasaribu, Benaya Obednego Sirait, dan Brillian Mozza mengembangkan pendekatan bernama C.L.E.A.N (Circular, Low-emission, Efficient, Affordable, and Natural) untuk memastikan proses ekstraksi berjalan efisien sekaligus ramah lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan tingkat efisiensi ekstraksi skandium mencapai 99,3 persen, angka yang tergolong sangat tinggi dalam proses metalurgi ekstraktif.

Skandium dikenal sebagai salah satu logam tanah jarang dengan nilai ekonomi tinggi dan aplikasi strategis. Material ini digunakan dalam berbagai industri mutakhir, termasuk paduan aluminium untuk pesawat terbang, teknologi baterai generasi baru, hingga peralatan energi bersih.

Kelangkaannya di alam membuat harga skandium berada di level premium, sehingga setiap inovasi yang mampu mengekstraksinya secara efisien menjadi sangat penting bagi industri global.

Dengan temuan ini, limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai justru berpotensi menjadi sumber bahan baku industri bernilai tinggi.

Selain memanfaatkan TKKS, penelitian ini juga menyoroti potensi red mud atau limbah dari pengolahan bauksit yang selama ini menjadi tantangan lingkungan besar.

Dalam pengembangan lain, red mud bahkan dapat diolah menjadi material geopolimer ramah lingkungan dengan kekuatan tekan yang kompetitif dibandingkan semen konvensional. 

Selain itu, material ini juga dapat dimanfaatkan untuk menyerap emisi gas sulfur dioksida (SO₂), sehingga memiliki fungsi ganda dalam industri hijau.