Intinya, air yang tersedia harus dimanfaatkan seefisien mungkin. Periode hujan Bawah Normal juga menjadi momentum bagi petani untuk meningkatkan pemantauan kebun.
Tanaman perlu diamati secara rutin, terutama apabila kondisi kering berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Perubahan kondisi tanah, pertumbuhan tanaman dan kondisi pelepah dapat menjadi informasi penting untuk menentukan tindakan di lapangan.
Pemantauan juga penting untuk memastikan aktivitas pemeliharaan tetap berjalan sesuai kondisi kebun.
Petani sebaiknya tidak menggunakan satu perlakuan yang sama untuk semua kebun. Kondisi tanah, umur tanaman, topografi dan ketersediaan air setiap kebun bisa berbeda.
Karena itu, keputusan teknis sebaiknya disesuaikan dengan kondisi setempat dan rekomendasi tenaga teknis atau penyuluh perkebunan.
Kelapa sawit sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan pembentukan hasil. Ketika ketersediaan air menjadi terbatas, tanaman berpotensi menghadapi tekanan.
Karena itu, prediksi iklim menjadi informasi penting bagi petani untuk melakukan mitigasi lebih awal.
Bukan berarti prediksi hujan Bawah Normal otomatis membuat produksi sawit turun. Dampaknya akan sangat bergantung pada durasi kondisi kering, tingkat defisit air, karakteristik lahan, umur tanaman, kondisi tanaman dan faktor budidaya lainnya.
87 Persen Wilayah Indonesia Lebih Kering, Petani Sawit Harus Siapkan Ini dari Sekarang
Diskusi pembaca untuk berita ini