Meski ayahnya, Yunus Muid bilang jangan pergi jauh-jauh, dia paksakan juga, yang penting bisa dapat duit untuk berangkat kuliah. “Puji Tuhan. Saya bisa dapatkan uang buat beli tiket itu,” kenangnya tertawa.   

Berangkat ke Jakarta, menjadi kali pertama bagi Ones, termasuk naik pesawat terbang. “Saya belum pernah sama sekali, pun naik kapal laut, belum pernah juga. Maka saya takut kali saat pesawat menabrak-nabrak awan, pesawat bergunjang, saya berdiri. Orang-orang melihat saya,” terkekeh Ones mengenang.   

Memang, waktu itu Ones tak berangkat sendirian, berenam. Semuanya satu tujuan; Politeknik CWE. Mereka menjadi angkatan pertama program beasiswa sawit bikinan Badan pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) itu, enam tahun silam. “Saat tes beasiswa itu kami ada 28 orang. Kami tes di kantor koperasi di Kampung Wasegi Indah di Distrik Prafi. Tapi yang lulus hanya 8 orang. Dua orang lagi lulus di AKPY-Stiper,” terangnya. 

Di Politeknik CWE yang kini dikomandani oleh Ir. St. Nugroho Kristono, M.T. itu, mereka kemudian dicekoki ragam ilmu. Mulai dari cara buka lahan, tanam kecambah, memupuk hingga memanen Tandan Buah Segar (TBS) dia pelajari. Ilmu itu kian komplit setelah Ones ikut praktek lapangan selama tiga bulan di kebun kelapa sawit milik PTPN V di kawasan Pantai Raja, Kabupaten Kampar, Riau.