Hasil obrolan inilah yang kemudian membikin Ones sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, dan, pengumuman program beasiswa sawit itu kemudian ada.
Bagi keluarga Ones, kelapa sawit bukan sesuatu yang asing, malah oleh kelapa sawit itu nya kakak Ones bisa kuliah ke Jakarta. “Dari dulu saya sudah senang dengan sawit. Soalnya setelah punya sawit satu kavling --- dua hektar --- di plasma PTPN II, bapa kami bisa dapat uang. Dulu kami rumah papan, kemudian bisa jadi bangunan beton,” katanya.
Sebelum kenal sawit, orang kampung cuma bertanam keladi, pijara dan lainnya. Itulah makanya orang-orang di kaki pengungan Arfak itu bilang; sawit adalah tanaman kehidupan kami, masa depan kami. Dengan sawit bisa dapat uang. Bisa sekolah, kuliah.
Dan sekarang, di tengah kesibukannya membantu para petani anggota Koperasi Produsen Sawit Arfak Sejahtera, Ones, sudah punya tanah untuk kemudian ditanami sawit. “Saya akan selalu bersama mereka, mengembangkan sawit Manokwari ini bersama-sama. Buat teman-teman saya sesama alumni beasiswa sawit, mari kita abdikan ilmu kita di daerah kita masing-masing. Kita bantu para petani kita. Sebab saya yakin, ke depan sawit akan semakin bermanfaat,” wajah lelaki ini nampak serius.
Menebar Ilmu Poltek CWE di Kaki Pegunungan Arfak
Diskusi pembaca untuk berita ini