Medan, elaeis.co – Limbah kelapa sawit selama ini dianggap masalah lingkungan yang sulit diatasi, terutama tandan kosong atau tangkos. 

Tapi mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed) membuktikan, limbah sawit bisa diubah menjadi solusi bersih industri.

Tim yang dipimpin Adryansyah Anugrah Pratama (Kimia 2022), bersama Giovani Mei Anggasta Telaumbanua (Kimia 2022), Mega Elsa Pardede (Kimia 2023), Sondang Ribka Simbolon (Teknik Sipil 2024), dan Wesly Yeremia Zega (Teknik Sipil 2023), berhasil mengubah tangkos sawit dan botol plastik bekas menjadi bahan adsorben. Bimbingan dilakukan oleh Moondra Zubir, Ph.D, dari Jurusan Kimia Unimed.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE), tim meneliti dengan judul: “Sintesis Komposit Polimer Berpori dari Limbah Plastik dengan Karbon Aktif Tandan Kosong Kelapa Sawit untuk Adsorpsi Limbah Cair Industri Sawit.” Hasilnya, limbah padat perkebunan sawit dan sampah plastik berhasil diubah menjadi komposit karbon aktif berpori tinggi.

“Inovasi ini tidak hanya solusi pengelolaan limbah, tapi membuka peluang luas, mulai dari penyaringan air, penyerapan gas berbahaya, hingga energi bersih,” ujar Adryansyah, Jumat (17/10).

Prosesnya cukup unik. Tangkos kelapa sawit diaktivasi menjadi karbon aktif berkualitas tinggi, sementara limbah botol plastik PET diolah menjadi asam tereftalat. 

Kedua bahan ini digabungkan menjadi material sintetis berbasis Metal Organic Frameworks (MOFs) dengan logam Cu(II), membentuk komposit KA–Cu(TAC) yang memiliki luas permukaan tinggi dan kemampuan adsorpsi unggul.

Material ini mampu menyerap logam berat dan amonia dari limbah cair industri sawit. Dengan kata lain, tangkos yang selama ini dianggap limbah justru bisa berperan sebagai “penyaring alami” industri.

Keunggulan lain dari inovasi ini adalah keberlanjutan. Limbah sawit dan plastik yang biasanya menumpuk kini dimanfaatkan secara maksimal, sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.