Pekanbaru, elaeis.co - Sebetulnya lelaki 44 tahun ini tak begitu mau cerita banyak soal industri pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit.
Selain tak mau dibilang pencitraan, ayah dua anak ini juga tak ingin dianggap menggurui banyak orang.
Maklum, enam bulan belakangan, Pabrik Kelapa Sawit (PKS) telah selalu menjadi sasaran amarah banyak orang. PKS dianggap cuma mau cari untung sendiri tanpa mau peduli dengan 'dapur' petani kelapa sawit.
Padahal bukan begitu sesungguhnya. "Kalau ditanya hati yang paling dalam, kami justru ingin sama-sama untung. PKS untung, petani untung. Kami ingin petani sejahtera. Tapi kenyataan saat ini, teramat sulit untuk menggapai itu," kata Hendry Endy saat berbincang dengan elaeis.co kemarin siang.
Bahwa masih banyak petani yang memikirkan dan menjalankan proses agronomi perkelapasawitan, iya. Bahwa masih banyak tengkulak atau pemasok buah ke pabrik yang menjaga kualitas Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawitnya, juga iya.
Tapi, enggak sedikit juga petani kelapa sawit yang justru cuma memikirkan kepentingan sesaat; memanen TBS sembarangan hingga mengoplos buah bagus dan buah tak bagus untuk dijual ke pabrik.
Alhasil, tak sedikit buah hasil panen yang sampai ke PKS, dalam kondisi kecil-kecil, mengkal dan bahkan mentah. Suka tidak suka, buah-buah semacam itu kata Ketua Kompartemen Agroindustri Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau ini, pasti dipulangkan.
"Kalau sudah seperti itu kondisi buah yang datang ke pabrik, kita enggak akan berani membeli dengan harga tinggi, apalagi seharga harga yang ditetapkan oleh Dinas Perkebunan," ujarnya.
Celakanya kata pemilik PKS di Indragiri Hulu (Inhu) Riau ini, buah pulangan tadi dibeli oleh tengkulak, dioplos, kemudian dijual ke pabrik. Uniknya, ada juga pabrik yang mau membeli buah seperti itu. "Enggak habis pikir saya," ujarnya.
Tentang Petani, Pengepul dan Pabrik Kelapa Sawit Itu...
Diskusi pembaca untuk berita ini