a.berhutan atau bervegetasi tetap yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam;
b.memiliki luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologi secara alami;
c. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang masih utuh;
d.memiliki paling sedikit satu ekosistem yang terdapat di dalamnya yang secara materi atau fisik tidak boleh diubah baik oleh eksploitasi maupun pendudukan manusia; dan
e. memiliki keadaan alam yang asli untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam.
Sementara, areal perluasan TNTN tadi adalah bekas HPH Nanjak Makmur yang notabene kayu-kayu di areal itu telah ditebangi.
‘Dagangan’ Seksi Bernama TNTN
Sudah bertahun-tahun orang-orang meributkan TNTN dirambah para pendatang menjadi kebun sawit. Tapi orang-orang (yang barangkali sama) tak pernah meributkan kalau lebih dari 150 ribu hektar lansekap kawasan Tesso Nilo --- malah dalam Revitasilasi Ekosistem Tesso Nilo (RETN) luasan itu mencapai lebih dari 258 ribu hektar --- yang telah berubah menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI). Areal seluas itu hanya dikuasai oleh 13 perusahaan.
Kenapa bisa begitu? Bisa jadi lantaran bahasa "Taman Nasional" itu memang teramat seksi, terlebih 10 tahun terakhir, ketika dunia makin sibuk menyuarakan perubahan iklim hingga pelestarian alam.
Belum lagi bila Taman Nasional ini diboncengi oleh Non Government Organization (NGO) yang menjadikannya objek gelontoran duit funding yang besarannya 'tak berseri', yang dengan mudah berkampanye dan lobi sana-sini, Taman Nasional tentu semakin teramat seksi.
Alhasil, oleh kampanye, lobi, dan keseksian tadi, orang tak ambil pusing lagi tentang asal muasal hingga kebenaran proses berdirinya Taman Nasional itu. Yang ada di dalam benak mereka adalah bahwa Taman Nasional merupakan gugusan hutan alam asli nan asri yang menjadi habitat flora dan fauna; warisan untuk anak cucu yang tak boleh diusik oleh siapapun!
Pemikiran semacam ini tersematkan juga kepada TNTN. Itulah makanya ketika bahasa "TNTN dirambah" berdengung, orang-orang langsung menaruh simpati. Apalagi ditambah dengan embel-embel “pendatang” meski mereka adalah anak jati Bumi Pertiwi, rasa simpati itu semakin tinggi. Maka apapun dan siapapun yang berupaya menyelamatkan TNTN, akan dianggap sebagai pahlawan.
Sekali lagi, dengan situasi seperti itu, nalar orang-orang tak lagi menyelusup jauh kepada kisah muasal TNTN itu, hamparan lahan yang sesungguhnya telah lebih dulu "dirudapaksa" oleh gergaji-gergaji mesin milik perusahaan, baru kemudian diusulkan menjadi TNTN. Sementara aturan dimasa itu meminta, areal Taman Nasional adalah hutan alami dengan sederet persyaratan lain.
Menyoal TNTN
Diskusi pembaca untuk berita ini